Kamis , 20 September 2018
Ketum Parmusi H. Usamah Hisyam memimpin Upacara 17 Agustus di halaman Kantor PP Parmusi, Kebagusan, Jaksel, Jumat (17/08/2018). [foto: shodiq]

Parmusi dan Tantangan Dakwah Era Milenial

Dengan paradigma baru connecting muslim, Parmusi menghadapi tantangan sekaligus peluang dakwah dari generasi milenal.

”Parmusi ingin menempatkan dakwah sebagai sebuah gerakan bukan hanya sebagai kewajiban. Dengan Jambore Nasional Dai, Parmusi makin jelas jenis kelaminnya. Kita adalah organisasi dakwah, bukan underbow partai politik. Ini sekaligus menandai proses transformasi nilai-nilai Parmusi dari politik ke dakwah.”

Kutipan kalimat di atas adalah jawaban Ketua Umum Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) H. Usamah Hisyam atas pertanyaan mengapa Parmusi mengadakan Jambore Nasional Dai yang rencananya diikuti 5000 dai dari seluruh Indonesia pada 24-27 September 2018 mendatang dalam konferensi pers usai penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakornas) di sebuah hotel di kawaan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Ahad 8 Juli 2018 lalu.

Jawaban tegas dan lugas Usamah tentang kiprah Parmusi saat ini sejatinya bukan yang pertama kali. Pasalnya, paradigma baru connecting muslim berbasis dakwah, sosial, ekonomi dan pendidikan telah secara resmi dikukuhkan dalam Mukernas ke-2 di Jakarta pada 2-4 Oktober 2016 lalu. Pengukuhan paradigma baru ini berdasarkan amanat Mukernas I Parmusi pada September 2015.

Menurut Usamah, salah satu program nyata dari paradigma baru Parmusi ini adalah dengan menata, menyapa, dan membela umat, serta mewujudkan Manhaj Dakwah Desa Madani yang fokus pada empat pilar yakni meningkatkan iman dan takwa (imtak), membangun kemandirian ekonomi, pemberdayaan sosial, dan pendidikan warga.

Sebagai bagian dari aktivitas da’wah ilal khair (dakwah mengajak kepada kebaikan), baik di perkotaan maupun pedesaan dakwah model seperti ini patut diapresiasi. Sebab besarnya jumlah Muslim di Indonesia dan luasnya wilayah, ternyata hingga 73 tahun Negara ini merdeka belum dapat diurus secara optimal oleh pemerintah. Umat Islam yang berada di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) masih membutuhkan perhatian agar akidah mereka terjaga.

Bersyukur saat ini wilayah-wilayah 3T ini –meski belum semuanya- telah dijangkau oleh organisasi-organisasi dakwah Islam yang ditopang oleh lembaga-lembaga zakat, infak dan sedekah. Untuk sekadar menyebut contoh, selain Parmusi yang kini merambah wilayah 3T, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) dengan Laznas Dewan Da’wah-nya, Muhammadiyah dengan Lazismu-nya, dan ormas-ormas lainnya, telah berkiprah di wilayah-wilayah terdepan, terluar dan tertinggal.

Tantangan Baru: Generasi Milenial

Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) sebagai organisasi kemasyarakatan dilahirkan pada Ahad, 26 September 1999 atau 16 Jumadil Tsani 1420 H di Yogyakarta. Walaupun secara resmi Parmusi lahir pada 1999, yang secara hitungan sudah masuk era milenial, embrio Parmusi ini pernah dilahirkan pada 17 Agustus 1967 saat Panitia Tujuh yang terdiri atas: KH. Faqih Usman (Ketua), Anwar Harjono (Wakil Ketua), Agus Sudono (Sekretaris), Ny. RAB Sjamsuridjal, Marzuki Jatim, Hasan Basri, dan EZ Muttaqin (anggota-anggota) berhasil membentuk Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI). Partai inilah yang pada 5 Januari 1973 bersama sejumlah partai Islam lainnya berfusi menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Kelahiran Parmusi sebagai ormas pada 1999 dan benar-benar mengubah paradigma pada 2016, bila dilihat dari aspek perjuangan gerakan dakwah di kancah generasi milenial boleh disebut terlambat, meski dalam konteks amal shaleh tak ada istilah terlambat. Ini karena dalam percaturan dakwah di tengah generasi milenal, telah eksis sejumlah gerakan dakwah seperti Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Jamaah Salafi, dan Jamaah Tabligh. Jamaah-jamaah ini telah memulai aktivitas dakwahnya sejak awal 1980-an. Di sekolah-sekolah, kampus-kampus, perkantoran dan masjid-masjid di masyarakat keberadaan mereka telah “menggurita”.

Bicara tentang tantangan dakwah di era milenial, harus diketahui dahulu apa itu generasi milenal dan apa ciri-ciri serta kecenderungan mereka. Dengan memahami tipologi “makhluk” bernama generasi milenial ini, akan diketahui bagaimana cara dan strategi menghadapi mereka sehingga dakwah Islamiyah tetap dapat tersampaikan.

Generasi milenial, disebut juga dengan generasi Y. Mereka adalah kelompok usia yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1981 sampai 1994 masehi. Generasi ini sudah mengenal teknologi seperti komputer, video games, dan smartphone. Ungkapan Generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993.

Saat ini, mereka yang terkatagori milenial dalam berkomunikasi banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti facebook, line, path, instagram, whatsapp, dan twitter. Mereka juga suka main game online.

Era setelah generasi Y disebut sebagai generasi Z. Generasi Z adalah mereka yang lahir pada 1995 hingga 2010 atau 2011. Artinya, kelompok generasi Z pertama saat ini telah berusia 23 tahun atau telah lulus kuliah strata satu.

Seperti dilansir livescience.com dari USA Today pada 2012 lalu, sebuah studi menunjukkan bahwa generasi millenial lebih terkesan individual, cukup mengabaikan masalah politik, fokus pada nilai-nilai materialistis, dan kurang peduli untuk membantu sesama jika dibandingkan dengan generasi X (kelahiran 1965-1980) dan generasi baby boom (kelahiran 1946-1964) pada saat usia yang sama. Studi ini sendiri berdasarkan analisa terhadap dua database dari sembilan juta orang yang duduk di bangku SMA atau yang baru masuk kuliah.

Generasi ini disebut juga memiliki kepribadian pemalas, narsis, dan suka sekali melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Penelitian itu juga menyebutkan, generasi milenial merupakan pribadi yang pikirannya terbuka, pendukung kesetaraan hak (misalnya tentang LGBT atau kaum minoritas). Mereka juga memiliki rasa percaya diri yang bagus, mampu mengekspresikan perasaannya, pribadi liberal, optimis, dan menerima ide-ide dan cara-cara hidup.

Ubah Tantangan sebagai Peluang

Inilah tantangan besar dakwah Islamiyah di era dan pada generasi milenial. Organisasi dakwah seperti Parmusi, harus mampu menjadikan tantangan ini sekaligus sebagai peluang dakwah.

Pada masa lalu, saat melakukan analisis tantangan, hambatan dan problem dakwah biasanya berkiasar pada dua urusan: internal dan eksternal. Problem internal biasanya terkait leadership, manajemen dakwah, finansial, kejumudan pemikiran, dan fanatisme (ashabiyah). Sementara problem eksternal biasanya terkait massifnya Kristenisasi, liberalisme, aliran sesat dan materialisme.

Melihat sifat dan karakteristik generasi milenial, rasa-rasanya problem internal dan eksternal itu malah menyatu. Artinya tantangan dakwah makin besar dan serius karena sebagian sifat dan karakter generasi milenial justru bertentangan dengan Islam. Bagi Parmusi, inilah generasi yang harus digarap secara serius. Umat Islam yang berada di wilayah 3T harus diperhatikan, tetapi generasi milenal, kaum muda zaman now ini juga jangan sekali-kali diabaikan. Sebab merekalah yang kelak akan melanjutkan estafet kepemimpinan dan dakwah Islam di masa mendatang.

Untuk itu setidaknya dua hal ini dapat dilakukan. Pertama, terkait uslub (cara/strategi) dakwah. Cara/strategi dakwah adalah hal-hal mubah yang dapat digunakan untuk berdakwah. Di era digital seperti saat ini, gadget dan media sosial tak pernah sedetik pun lepas dari kaum milenial. Maka, gadget dan media sosial harus dijadikan wasilah dakwah.

Dakwah Parmusi harus dilakukan dengan menyampaikan konten-konten yang akrab dengan generasi zaman now ini. Penggunaan portal dakwah dengan konten tidak melulu berupa tulisan. Konten-konten dakwah dapat dikemas dengan vlog, soundcloud, infografis, dan juga meme. Ceramah-ceramah dai Parmusi harus dimuat di YouTube agar dakwah makin meluas.

Fenomena Ustaz Abdul Shomad (UAS), selain karena beliau adalah orang yang cakap, fakih, dan pintar berceramah, –artinya kontennya bagus—juga ditunjang dengan pemanfaatan media sosial untuk dakwah online. Tim dakwah UAS benar-benar memanfaatkan YouTube dan kemudian Instagram, sebelum pada akhirnya beliau fenomenal secara offline.

Kedua, revitalisasi Parmusi sebagai gerakan (harakah) dakwah. Sebab usia dakwah akan lebih panjang dari usia pengurusnya. Dan gerakan dakwah tidak boleh bertumpu pada kekuatan satu dua orang saja. Dakwah juga tidak bergantung figure kharismatis, yang apabila figure tersebut tiada maka dakwah akan melemah. Tidak sama sekali.

Kecakapan ketua umum dalam memimpin Parmusi adalah hal mutlak. Namun dakwah harus berbasis ide, pemikiran dan gagasan Islam. Keterikatan anggota dan pengurus harus berdasarkan pada kesamanaan pemikiran bukan kepentingan.

Sebagai sebuah gerakan (harakah) dakwah, Parmusi harus merumuskan target dan tujuan yang akan dicapai. Terkait tujuan ini, Ketum Parmusi Usamah Hisyam sering menyampaikan bahwa Parmusi bertujuan untuk menerapkan syariat Islam kepada umat Islam dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, itu baru sebatas cita-cita global yang masih harus diperinci dengan langkah-langkah atau tahapan-tahapan (marhalah) menuju tujuan tersebut. Hal yang lumrah setiap harakah memiliki marhalah da’wah yang ditetapkan.

Karena Parmusi niscaya berkompetisi dengan gerakan-gerakan dakwah serupa, maka Parmusi harus memiliki konsep-konsep pemikiran yang diadosi oleh anggotanya dan diperjuangkan secara kosisten. Bagaimana konsep Parmusi dalam pendidikan, ekonomi, pemerintahan, keluarga, sosial kemasyarakatan, budaya, pertahanan dan keamanan. Jika Parmusi memiliki gagasan-gagasan terhadap bidang-bidang tersebut, insyaallah akan menjadi daya tarik bagi generasi milenial. Mereka dapat disatukan oleh pemikiran dan bergabung untuk mewujudkan pemikiran-pemikiran itu.

Selanjutnya berkaitan dengan kader. Kader dakwah Parmusi harus militan, tangguh, ikhlas dan istiqamah. Memiliki syakhsiyyah Islamiyyah (kepribadian Islam), yang terwujud dalam pola pikir Islam (aqliyah Islamiyah) dan pola sikap Islam (nafsiyah Islamiyyah). Kepribadiannya adalah kepribadian sebagai seorang pengemban dakwah (hamlud da’wah).

Kader yang ber-syakhsiyah Islamiyyah ini hanya dapat terwujud manakala Parmusi memiliki sistem pembinaan yang berjenjang. Pembinaan kader tidak hanya dilakukan melalui pengajian-pengajian umum, tetapi harus dilakukan dengan pembinaan intensif (tatsqif murakazah) berupa halaqah-halaqah rutin. Di forum halaqah inilah transfer kepribadian (transfer of personality) –bukan hanya transfer ilmu-ilmu Islam—dilakukan. Sistem halaqah adalah sistem pembinaan yang terbukti paling efektif dalam membangun organisasi dakwah.

Dengan model seperti ini, insyaallah tantangan dakwah pada generasi milenal, generasi Z maupun generasi Alpha yang akan datang bisa dihadapi. Semoga. Wallahu a’lam bishshawab.

M. Shodiq Ramadhan
Redaktur Pelaksana Suara Islam Online/Dewan Redaksi Pikiranumat.com

Baca Juga

Parmusi: Selamat, Ahok Tempati ‘Pesantren’ Baru

Jakarta (PIKIRANUMAT) – Gema takbir yang mengiringi suara orator sejak pagi dari atas mobil komando …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *