Pemimpin Dusta dan Diktator

Pemimpin merupakan seseorang yang memiliki kemampuan dalam memimpin, artinya memiliki kemampuan lebih untuk mempengaruhi orang-orang untuk bersama-sama melakukan aktivitas agar mencapai pada suatu tujuan. Pemimpin dalam bahasa Inggris adalah “leader” dimana harus mampu membangkitkan loyalitas dalam kebaikan. Selain itu dapat memberikan keteladanan dalam berdisiplin, menegakkan tanggung jawab , mengemban amanah yang diemban, dan mengayomi atau memberikan jaminan kesejahteraan terhadap orang-orang yang ada di bawahnya.

Namun, selama 4,5 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah menunjukkan keotoriterannya dan nepotisme dalam memimpin Indonesia. Karena selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, berbagai tindakan kekerasan banyak dilakukan aparatur negara, sampai pelarangan terjadi secara masif di Papua. (rappler.com, 22/5/2019).

Rezim ini pun tampak bermusuhan dengan Islam dan umatnya. Ulama yang menyampaikan kebenaran telah dikriminalisasi dan dipersekusi. Selain itu, berbagai tuduhan pencemaran nama baik/fitnah telah dilontarkan kepada para ulama, semisal Habib Rizieq. Bahkan Ustadz Felix Siauw, dai mualaf yang terkenal di kalangan anak milenial, menyatakan rezim Presiden Joko Widodo disamakan dengan rezim Firaun sewaktu memimpin Mesir di zaman kuno. (rmol.co, 29/9,2017)

Pada kasus Papua, berbagai media sosial telah di bungkam agar masyarakat tidak tahu akan kondisi Bumi Cedrawasih. Faktanya tanah Papua dilingkupi berbagai persoalan ekonomi, kesehatan dan ketidakadilan yang kian miris. Namun, fakta yang ada ditutupi oleh payung pencitraaan.

Sementara dimana-mana rakyat dipusingkan dengan berbagai harga sandang pangan yang melambung tinggi, kenaikan BBM dan pajak berulang kali, infrastruktur banyak namun hutang sana-sini. Rakyat pun masih harus dibebani dengan beban hutang yang semakin tinggi di masa datang.

Hujan fakta yang demikian banyak, tak dapat ditutupi lagi dengan payung pencitraan. Janji-janji kampanye pun hanya pepesan kosong semata. Faktanya rakyat semakin hari semakin dibuat susah. Semakin jelas pula kepemimpinan Jokowi banyak sekali catatan-catatan hitam yang diperoleh. Inilah sejarah yang dicatat dalam kepemimpinan dusta dan diktator.

Beda halnya dengan kepemimpinan dalam Islam. Kepemimpinan Islam identik dengan istilah Khilafah. Dimana pemimpinnya disebut Khalifah. Selain Khalifah disebut juga Ulul Amri yang satu akar dengan kata amir. Kata Ulul Amri berarti pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa’ ayat 59 yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Untuk itu kepemimpinan sangatlah mempengaruhi bagi kesejahteraan umat. Apakah akan mencapai suatu kejayaan dalam menjadi pemimpin atau malah mengalami suatu kemunduran. Karena itu, seorang pemimpin dipilih untuk menegakkan hukum Allah SWT. Tidak boleh seorang pemimpin melaksanakan hukum buatan manusia, sekalipun umat menghendakinya. Sebab menolak penerapan syariat islam atau melaksanakan hukum Allah secara persial, atau bertahap pada hakikatnya adalah mengekalkan sekulerisme, menghilangkan peran Allah Ta’ala. Padahal sejatinya manusia hidup di bumi Allah, jadi hukum yang harus dipakai juga hukum dari Allah pula. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Nisaa Qomariyah, S.Pd.
Pengajar

BACA JUGA!

Liberalisasi, Generasi Semakin Rusak

Baru-baru ini ada pemberitaan yang membuat miris yakni MT, mantan Kepala Sekolah di Kabupaten Soppeng, …