Peran Pers dalam Kebangkitan Islam

Presiden Jokowi menjamin kebebasan pers. Hal itu diungkapkan saat puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN), di Grand City Surabaya, Sabtu (9/2/2019). Terus terang pernyataan presiden tersebut, menggelitik hati penulis. Mengingat pernyataan tersebut tak sesuai dengan fakta.

Fakta hari bertolak belakang dengan pernyataan presiden. Contoh, pada Reuni Akbar 212, 2018, TVOne menjadi satu-satunya televisi nasional yang meliput acara tersebut. Sementara televisi nasional yang lain mungkin terlalu takut memberitakannya. Mengingat siapa pemiliknya, bisa jadi ada campur tangan rezim.

Media cetak pun tak lagi netral. Pemberitaan Reuni Akbar 212 dibuat tenggelam oleh berita lainnya. Padahal menjadi rahasia publik, Reuni Akbar 212 dihadiri kurang lebih 13 juta orang. Bahkan beritanya dimuat di media-media cetak luar negeri.

Media mainstream hari ini seolah menjadi penjaga rezim. Lihatlah televisi nasional yang dimiliki oleh pendukung petahana. Berita-berita yang disajikan cenderung memihak pada rezim. Menjadi ajang promosi pencitraan agar rezim ini tetap eksis. Mirisnya, mayoritas rakyat Indonesia masih menggunakan televisi sebagai referensi berita.

Mereka tak lagi bebas menyampaikan kebenaran berita. Apatah lagi memberi manfaat untuk mencerdaskan rakyat. Berita penting yang menyangkut rakyat banyak, ditutupi dengan berita tak bermutu ala penguasa. Rakyat dibuai dengan berbagai berita tentang megahnya infrastruktur bikinan penguasa. Di satu sisi, menyembunyikan derita rakyat yang dibuat bingung dengan murahnya harga hasil pertanian.

Media sekuler juga jadi alat propaganda untuk mencitraburukan Islam. Isu terorisme dikemas dengan sangat apik. Walau kini beritanya tak lagi laku, sebab rakyat sudah cerdas. Isu radikalisme pun tak luput jadi framing jahat. Tentunya kita masih ingat bagaimana media sekuler menyebut FPI dan HTI dengan sebutan ormas radikal. Bahkan melabeli HTI dengan ormas terlarang.

Ulama pun tak luput menjadi korban media sekuler hari ini. Menolak lupa, boomingnya kasus fake chat Habib Rizieq tak luput dari peran media sekuler. Label teroris yang hingga kini disematkan kepada Ustadz Abu Bakar Ba’asyir juga buah dari aktorisasi terorisme ala media sekuler.

Dari paparan di atas terbukti jaminan kebebasan pers yang dijanjikan hanya omong kosong. Sebaliknya pers hari ini menjadi alat rezim melanggengkan kekuasaannya. Di satu sisi menjadi alat propaganda untuk mencitraburukan Islam dan umatnya.

BACA JUGA!

Menggapai Kebangkitan Hakiki

Wacana perubahan, menjadi topik hangat belakangan ini. Masyarakat menginginkan perubahan yang lebih baik. Kehidupan sulit …