Perempuan dalam Jeratan Ekonomi Kapitalis

Pasca pertemuan IMF di Bali 8-14 Oktober 2018, banyak catatan yang layak untuk dikaji di antaranya dari ucapan Ibu menteri keuangan Sri Mulyani yang menjelaskan bahwa perempuan sangat berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. ”Negara harus meningkatkan partisipasi tenaga kerja perempuan, baik untuk perekonomian, untuk perempuan dan untuk keluarganya. Karena itu peran perempuan dalam sebuah pekerjaan harus ditingkatkan,” ungkap Sri Mulyani.

Mengapa persoalan perekonomian negara ini terus menyeret peran perempuan ke ranah publik/umum? Benarkah, semakin banyak perempuan yang terjun ke publik untuk pekerjaan akan terselesaikan permasalahan yang dihadapi saat ini?

Pada faktanya dari sekian banyak perempuan yang bekerja baik di sektor formal maupun non formal keadaan taraf perekonomian tidak berubah. Perempuan yang tidak bekerja dianggap sebagai beban ekonomi, sehingga harus didorong dengan kebijakan pemerintah agar perempuan terlibat perekonomian. Sementara perempuan yang bekerja di eksploitasi dengan mengatasnamakan pemberdayaan ekonomi perempuan.

Banyaknya perempuan yang memilih bekerja justru menambah panjang deretan persoalan yang menyertainya. Antara lain: Pertama, ekonomi kapitalis telah menipu kaum perempuan. Dengan menyeretnya masuk arus kapitalisasi dengan standar ganda yang dilakukan, alih-alih ingin memberdayakan perempuan padahal sejatinya menjadi target eksploitasi. Tenaga Kerja Perempuan dinilai lebih nurut dibanding tenaga kerja laki-laki, upah yang relatif rendah dari laki-laki tapi dengan beban kerja yang sama. Perempuan yang bekerja pada dasarnya dipersiapkan untuk menjadi sasaran/target penjualan produk yang dihasilkan, mengingat kecenderungan perempuan yang suka berbelanja dibanding laki-laki.

Kedua, meningkatnya kasus perceraian yang disebabkan faktor ekonomi. Karena merasa sudah berpenghasilan sendiri sehingga merasa tidak membutuhkan lagi peran suami dalam menafkahi keluarga. Ketiga, beban stress yang meningkat dikarenakan perempuan harus berperan ganda di ranah publik baik sebagai pekerja maupun ranah domestik sebagai ibu dan pengatur rumah tangga yang semuanya menutut totalitas.

Keempat, semakin sempitnya lapangan pekerjaan bagi laki-laki karena dominasi perempuan dalam segala sektor. Kelima, perempuan banyak yang terjerumus kepada gaya hidup yang hedonis dan materialis, karena merasa cukup uang dan kebebasan finasial untuk membelanjakannya.

Melihat permasalahan yang ada, jika ditelusuri benang merahnya akan sampai pada satu titik bahwa keterpurukan ekonomi saat ini bukan karena perempuan tidak ikut andil dalam putaran ekonomi, akan tetapi kesalahan persepsi dan penerapan sistem kapitalis sekuler yang menjadi dasarnya.

Sistem ekonomi kapitalis ditopang oleh pilar kebebasan, yaitu kebebasan kepemilikan, kebebasan berperilaku dan kebebasan berpendapat. Setiap individu boleh menguasai kepemilikan milik umum maupun negara asalkan dia mampu secara ekonomi. Jadi sudah sewajarnya kalau perekonomian ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja yaitu para kapital. Kapitalisme hanya memandang manusia terutama perempuan sebagai barang yang dinilai karena nilai ekonomisnya, sehingga mengeksploitasi perempuan dengan dalih pemberdayaan perempuan, dibungkus dengan manis lewat emansipasi.

Dalam sistem ekonomi kapitalis saat ini semua beban ekonomi dibebankan kepada individu, sehingga faktor inilah yang sebenarnya pemicu kuat keterpurukan ekonomi keluarga. Padahal, Allah telah menciptakan manusia laki laki dan perempuan sudah lengkap dengan fitrahnya, untuk beribadah kepada Allah sesuai kedudukannya masing-masing.

Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, dialah yang mendapat taklid dari Allah untuk menafkahi dirinya maupun keluarga, sedangkan Islam mendudukkan perempuan dalam posisi yang mulia yaitu sebagai ummu warobatulbait, di mana fungsi perempuan yang pertama dan utama adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Perempuan didorong untuk berkontribusi dalam mencetak generasi yang unggul penopang peradaban, tanpa mengurangi haknya untuk bermuamalah dalam kehidupan umum.[]

Ndarie Rahardjo
Guru PAUD, Depok

BACA JUGA!

Hoaks Pimpinan GP Ansor Timbulkan Keonaran di Masyarakat

Berbagai aksi sweeping yang dilakukan oleh GP Ansor melalui Banser terhadap bendera berkalimat Tauhid telah …