Perempuan dalam Kubangan Kapitalisme

Kapitalisme telah menjadikan perempuan sebagai obyek yang sangat menarik bagi perekonomian saat ini. Perempuan dijadikan komoditas dan mesin pencetak uang. Dalam pertemuan IMF (International Monetary Fund) dan World Bank, telah dibahas mengenai Empowering Women in the Workplace. Di lansir dari detikfinance.com (9/10/2018) Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan perempuan sangat mendorong pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Karena itu peran perempuan dalam sebuah pekerjaan harus ditingkatkan.

Tidak hanya Sri Mulyani yang berpendapat pentingnya peran perempuan dalam perekonomian, putri kedua Almarhum Gus Dur juga memaparkan hal senada. Yenny Wahid mengatakan kelompok perempuan pada dasarnya memiliki peran yang besar dalam rangka pengentasan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Hal itu disampaikan dalam Forum Tahunan IMF-World Bank tahun 2018 yang digelar di Nusa Dua Bali, Rabu (10/10).

Perempuan dieksploitasi habis-habisan dalam segi ekonomi. Banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2017, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pekerja perempuan meningkat sebesar 2,33%, menjadi 55,04% dari sebelumnya yaitu 52,71% pada Februari 2016. Bahkan, menurut riset dari Grant Thornton tahun 2017, Indonesia merupakan salah satu Negara yang mempunyai peningkatan terbaik dalam hal jumlah perempuan yang menduduki posisi senior diperusahaan dengan peningkatan dari 24% di tahun 2016 menjadi 28% ditahun 2017. (Jawapos.com)

Hal tersebut menjadi sebuah kewajaran dalam kapitalisme. Sistem Kapitalisme sebagai sistem yang diterapkan oleh kebanyakan negara di dunia, termasuk Indonesia, memiliki cara pandang yang khas dan akan mempengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kapitalisme memelihara lingkungan matrealistik, salah satunya membuat kemolekan tubuh perempuan sebagai aset berharga untuk menghasilkan pundi-pundi uang yang dapat memberikan sumbangsih pajak yang besar untuk negara. Perempuan digiring menjadi pemutar roda industry dan dijauhkan dari peran politik sebagai ibu dan pencetak peradaban Islam.

Selain itu, kapitalisme juga terus menggencarkan idenya, bahwa standar kebahagiaan seseorang diukur dengan banykanya uang, gelar dan hal lain yang berstandarkan atas materi. Dengan demikian perempuan akan semakin banyak yang bekerja dan meninggalkan keluarganya demi mencapai kebahagiaan versi kapitalisme. Sehingga peran perempuan dalam keluarga beralih fungsi. Akibatnya banyak anak yang terlantar karena ibunya bekerja di luar rumah. Walaupun hukum asal perempuan bekerja adalah sebuah kemubahan (kebolehan) dengan catatan tidak meninggalkan kewajiban dan peran seorang ibu di rumah. Bagaimana bisa mencetak generasi cemerlang jika ibunya sibuk mencari uang di luar rumah. Selain itu angka perceraian pun semakin meningkat karena timbul konflik, salah satunya penghasilan istri lebih tinggi daripada suami.

Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan saat ini, pemerintah seolah abai dan bahkan mendukung kondisi yang mendzalimi perempuan ini dengan membiarkan perusahaan-perusahaan mengeksploitasi pekerjanya, melegalisasi prostitusi sebagai jalan untuk pemberdayaan ekonomi perempuan. Bahkan mendukung gerakan empowering woman yang sangat merugikan perempuan. Dan hanya sebuah kedok untuk mengokohkan hegemoni kapitalisme.

Dari sini sudah jelas kapitalisme sangat bertentangan dengan Islam. Islam sangat memuliakan perempuan. Bahkan Islam memerintahkan menghormati Ibu (perempuan) tiga derajat lebih tinggi dibanding ayah. Begitu mulianya Islam memandang perempuan. Peran perempuan di keluarga sangatlah penting untuk menentukan generasi selanjutnya. Perempuan berdaya dalam tinjauan Islam tidak hanya sekedar pelabelan harta, kecantikan dan hal lain yang mengarah pada metrealistis. Namun berdaya dengan mengemban tugas-tugas yang menjadi amanah untuk para perempuan, yaitu mengatur rumah tangga dan mencetak generasi unggul. Selain itu perempuan juga mempunyai kewajiban untuk mengkritisi kebijakan penguasa tanpa harus bergelar dan mempunyai jabatan.

Hal ini hanya bisa terwujud dalam sistem yang menerapkan Islam secara menyeluruh. Dengan demikian, menerapkan sistem tersebut adalah suatu kewajiban bagi kita sebagai seorang muslim. Karena dengan sistem itulah kemuliaan perempuan akan terjaga dan aturan Islam dapat diterapkan di seluruh sendi kehidupan.

Septa Yunis
(Muslimah Voice)

BACA JUGA!

Hoaks Pimpinan GP Ansor Timbulkan Keonaran di Masyarakat

Berbagai aksi sweeping yang dilakukan oleh GP Ansor melalui Banser terhadap bendera berkalimat Tauhid telah …