Pindah Kubu, Pelajaran dari Ar-Rajjal bin Unfuwah

Pindah kubu, hal yang lumrah dalam demokrasi. Sebab dalam demokrasi kepentingan dan hawa nafsu kekuasaan menjadi tujuan. Menjadi rahasia publik, para elit politik dan pejabat berpindah kubu ibarat kutu loncat.

Tak ada lagi rasa malu demi mengamankan kepentingan dan eksistensi. Harga diri dibuang jauh asal bisa terus berkuasa. Orang lain sering kali dikorbankan demi harta dan tahta.

Inilah demokrasi sembunyi di balik topeng kepentingan dan pencitraan. Dan orang-orang seperti ini makin banyak dijumpai di rimba demokrasi. Tapi tahukah Anda, orang yang berpindah kubu sejatinya telah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam.

Tersebutlah nama Ar-Rajjal bin Unfuwah. Pada awalnya dia adalah salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam.

Ar-Rajjal bin Unfuwah telah berhijrah, menyatakan keislamannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dia membaca Al-Quran dan memahami ilmu agama. Dia juga seorang yang cerdas dan memiliki pandangan yang luas tentang problematika hidup.

Suatu ketika muncul fitnah kenabian Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah. Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya sebagai pengajar penduduk Yamamah.

Ar-Rajjal bin Unfuwah mendapat tugas untuk mengajar dan memberikan pemahaman kepada penduduk Yamamah akan sesatnya Musailamah. Sehingga penduduk Yamamah menentang Musailamah dan menggagalkan usaha Musailamah untuk diakui menjadi nabi di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi, di tengah jalan, Ar-Rajjal bin Unfuwah justru terpengaruh dan lalai dari tugasnya. Ia termakan tipu daya dan kebohongan Musailamah. Sehingga dia berbalik menjadi pembela Musailamah Al Kadzdzaab sebagai nabi palsu.

Pindah kubu Ar-Rajjal bin Unfuwah jauh hari telah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Unfuwah.

Nabi bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailimah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailimah.”

Sungguh fitnah Ar-Rajjal bin Unfuwah menjadi cerminan kondisi para elit politik dalam kubangan demokrasi. Pindah kubu demi menyelamatkan kepentingan. Memuji pihak kawan dan menjelek-jelekkan pihak lawan. Kerap kita jumpai dalam kontes politik ala demokrasi.

Maka jangan mau terjebak di dalamnya. Sejatinya seorang muslim memiliki pandangan yang jelas dalam menyikapi konstelasi politik hari ini. Sikap melek politik harus senantiasa waspada. Sebab tak ada jalan tengah dalam menyikapi kebenaran dan kebathilan.

“Janganlah kamu campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kamu sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya.“ (TQS. Al-Baqarah ayat 42).

Tetap teguh dalam pendirian bahwa sistem Islamlah yang mampu menuntaskan segala problematika negeri ini. Dan istiqomah dalam perjuangan tegaknya Islam. Sampai kemenangan itu datang atau kita binasa bersamanya. Insyaallah. Wallahu’alam bishshawwab.

Ummu Naflah
Member Akademi Menulis Kreatif

BACA JUGA!

Dakwah? Siapa Takuut!

Sobat, coba deh kamu cermati teman di sekolah maupun di rumah, terutama remaja di zaman …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *