Potret Perempuan: Barat Versus Islam

Paradigma mendasar Barat dimana Kapitalisme menjadi kepemimpinan berpikirnya. Telah berhasil menorehkan tinta hitam dalam kehidupan kaum hawa. Dalam pandangan Barat, kaum hawa hanyalah objek yang tak berharga. Hak-haknya dikebiri, kehormatannya direnggut demi materi. Fitrahnya tercerabut sebab kebebasan berkedok kesetaraan dan keadilan gender.

Berikut ini perjalanan duka kaum hawa di Barat dari masa ke masa.

Potret Perempuan Barat di Era Klasik

Peradaban Yunani Kuno, khususnya masyarakat Athena, meniadakan peran perempuan dalam segala bidang. Nikolaos A. Vrissimtzis dalam Erotisme Yunani mengungkapkan seorang perempuan bisa saja mempunyai kedudukan yang tinggi. Namun ia harus menjadi seorang pelacur (hetairai). Wajar sebab pemerintahan Athena tak melarang merebaknya prostitusi saat itu.

Sue Blundell dalam bukunya “Women in Ancient Greece” menuliskan, kaum lelaki justru menganggap perempuan sebagai sumber bencana dan penyakit. Perempuan diposisikan sebagai makhluk yang paling rendah. Mereka menganggap perempuan sebagai kotoran. Perempuan hanya dianggap sebagai barang dagangan.

Socrates, seorang filsafat Yunani Kuno, berpendapat, “Wanita ibarat pohon beracun, luarnya tampak indah, namun ketika burung-burung pipit memakannya,mereka akan mati sekitar.” Bangsa Yunani kuno menganggap perempuan hanya sebagai penghasil keturunan dan pengatur rumah tangga. Perempuan juga tak memiliki hak-hak sipil.

Sementara menurut Thomas A. J. McGinn dalam “Prostitution, Sexuality , and the Law in Ancient Rome”, dalam budaya peradaban Romawi, wanita berada di bawah kekuasaan ayahnya. Namun setelah menikah, kekuasaan tersebut beralih ke tangan sang suami.

Sayangnya, kekuasaan yang dimaksud bukan sebagai perlindungan. Baik ayah maupun suami mempunyai wewenang menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh. Keadaan mengerikan ini terus berlangsung hingga abad keenam masehi. Bahkan, ketika seorang istri mendapatkan penghasilan, maka itu akan menjadi hak keluarga sang suami. (republika.co.id, 8/4/2015).

Potret Perempuan Barat di Era Abad Pertengahan-Abad Renaisans

Samuel Pyeatt Menefee dalam karyanya “Wives for Sale: Ethnographic Study of British Popular Divorce”, mengungkap sebuah realita yang mengejutkan. Ia menyatakan tradisi menjual istri berlangsung selama 500 tahun di Inggris. Perbuatan keji ini dilakukan sebagai alternatif dari perceraian.

Di Eropa, pada abad kelima hingga Renaisans pada tahun 1517, perempuan memiliki kedudukan yang sangat rendah di sisi suami-suami mereka setelah menikah. Perempuan yang telah bersuami tak lagi memiliki hak atas dirinya. Tradisi ini dikenal dengan coverture .

Pada masa itu, seorang perempuan bersuami tidak mungkin memiliki hak, walaupun atas dirinya sendiri. Mereka adalah ‘barang’ milik suami mereka. Sehingga para suami merasa punya hak menjual ‘barang-barang’ milik mereka. Sejarah ini juga dicatat dalam buku “Uncle John’s Bathroom Reader Plunges Into History Again “.

BACA JUGA!

Wahai Muslimah, Begini Cara Berwudhu yang Benar

Wudhu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah yang hendak menjalankan ibadah shalat.