Santri Pristac angkatan I.

Pristac Wisuda 10 Santri Angkatan Perdana

Depok (PIKIRAN UMAT) – Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization (Pristac) mewisuda 10 santri angkatan pertamanya, Sabtu 3 Agustus 019. Wisuda yang berlangsung di Pesantren At Taqwa Cilodong, Depok, Jawa Barat, itu dihadiri segenap pengurus Yayasan At-Taqwa dan pendidik, pejabat lingkungan kelurahan, serta para wali santri.

Mudhir Pristac, Muhammad Ardianysah, menjelaskan, Pristac adalah program pendidikan untuk santri tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), dari jalur non-formal. Ujian kelulusan menggunakan paket C.

‘’Standar Kompetensi Lulusan secara prinsip mengacu kepada konsep pendidikan Islam, yang kebetulan juga sejalan dengan Permendikbud No 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL),’’ ujarnya.

Pendidikan non-formal Pristac berlangsung selama dua tahun setara SMA, dengan materi kajian pokok tentang adab, pemikiran Islam, dan wirausaha. Peserta didiknya dibimbing langsung oleh para pakar seperti Dr Adian Husaini, Dr Muhammad Ardiansyah, Dr M Suidat, Nuim Hidayat MSi, dan Ir Kusnadi.

Kesepuluh wisudawan memiliki keunggulan komparatif masing-masing, selain kompetensi standar. Fatih Madini atau Imad, misalnya, menguasai worldview Islam dan menuliskan gagasannya dengan baik. Buku karya santri usia 16 tahun ini sudah terbit dengan judul ‘Mewujudkan Insan dan Peradaban Mulia: Catatan Pemikiran Santri Milenial’ dan pernah dipresentasikan di beberapa kota di Indonesia hingga ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Musa Ibrahim, imam tetap Masjid Taman Madani Pondok Pesantren At Taqwa sekaligus pakar Bahasa Inggris. Rekannya, Faris, sudah lancar berbahasa Inggris.

M Fadlan Adzhim memiliki skill desain visual dan teamwork leader. Desain karyanya menghiasi papan petunjuk di lingkungan pesantren.

Dalam orasinya, Fatih membacakan prosa gubahannya sendiri, yang sulit dipercaya untuk ukuran generalsi milenial pada umumnya.

Dalam salah satu baitnya dia menggurat:

At-Taqwa mengajarkan kami bahwa kepintaran bukan tujuan utama. Masuk sekolah favorit atau kampus bergengsi bukan hal yang luar biasa. Lalu Memperoleh kerja untuk kemudian bisa makan bukan pula tujuan yang mulia.

Sebab itu sama saja mengkerakan manusia, bahkan merendahkan manusia dari kera. Sebab kera tidak perlu sekolah dan ke kampus untuk makan dan menghidupi keluarganya.

Yang selalu di tanamkan pada kami, adalah Bagaimana Insan Adabi bisa tercipta. Menjadi manusia baik, yang bisa meletakkan segala sesuatu, termasuk ilmunya. Pada tempat yang semestinya sesuai akal dan kehendak Allah SWT.

BACA JUGA!

Bebas, Penahanan Mustofa dan Lies Sungkharisma Ditangguhkan

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Kepolisian mengabulkan penangguhan penahanan terhadap dua anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) …