Puluhan Napi di Lapas Kembangkuning Hapus Tato

Hingga akhirnya kemudian tatonya di tangannya bisa diproses untuk dihapus pada Jumat (08/02/2019) tersebut. “Alhamdulillah, ada jalan,” ujarnya. Kesyukuran itu bertambah karena ia tak perlu merogoh kocek untuk menghapus rajah di tubuhnya.

DM mengakui bahwa menghapus tato merupakan bagian dari upayanya untuk berhijrah. Dengan menghapus tato, berarti telah menghapus keburukan.

“Mudah-mudahan Allah balas segala kebaikan (lewat program hapus tato ini),” harapnya saat ditemui tim IMS di sela-sela kegiatan itu.

Senada dengan itu, S (43 tahun), inisial warga binaan lainnya, turut gembira bisa ikut program hapus tato. Pria non-Muslim asal Jakarta ini mengaku ingin menghapus tatonya karena malu dengan anaknya. Dengan menghapus tato, ia ingin memberi bukti kepada sang buah hati bahwa dirinya telah berubah. “Saya pingin jadi contoh buat anak-anak,” ungkapnya.

Selain menghapus tato, perubahan positif lainnya telah ia jalani selama ini. Misalnya, sudah cukup lama ia meninggalkan kebiasannya mengisap tembakau beracun. “Tidak merokok sejak 2014,” akunya.

Dengan program hapus tato pun, ia semakin bertekad untuk hidup lebih baik. “(Hapus tato) ini momen yang jarang, yang berharga,” ujarnya, apalagi kalau di luar sana untuk hapus tato butuh biaya mahal. “Ini momen yang luar biasa,” ujar penganut agama Kristen ini.

Program hapus tato tersebut selama ini memang diikuti oleh peserta non-Muslim sekalipun.

Pihak Ditjen PAS Kemkumham menyatakan bahwa hapus tato merupakan program menarik bagi mereka untuk digelar di lembaga pemasyarakatan.

BACA JUGA!

Besok Prabowo Mau Jumatan di Masjid Agung Semarang, Ketua Takmir Keberatan

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Ketua Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman, KH Hanief Ismail mengaku …