Redam Konflik Usai Pemilu, MUI Keluarkan Tausiah Kebangsaan

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Tausiah Kebangsaan, Jumat Malam, berisi tujuh seruan yang ditujukan kepada seluruh komponen bangsa dalam rangka meredam dan mencegah konflik horisontal di masyarakat pascapelaksanaan pemungutan suara Pemilu 2019.

Tausiah Kebangsaan ini merupakan hasil rapat khusus Dewan Pertimbangan bersama Dewan Pimpinan MUI terkait perkembangan dinamika politik nasional setelah pelaksanaan pemungutan suara Pemilu 2019.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin, mengatakan Tausiah Kebangsaan dikeluarkan setelah mendengarkan informasi langsung dari pimpinan ormas sekaligus melihat fakta di lapangan terkait situasi pasca-pemilu 2019. “Dari pemikiran-pemikiran yang masuk dirumuskan menjadi tausiah kebangsaan,” kata Din.

Tujuh imbauan dalam tausiah kebangsaan ini dibacakan oleh salah satu Ketua MUI Pusat Yusnar Yusuf.

Pertama, mengajak seluruh keluarga besar bangsa, khususnya umat Islam, untuk bersyukur kehadirat Allah SWT bahwa suatu tahapan penting Pemilu, yakni pencoblosan surat suara Pemilu 2019 berlangsung dengan lancar dan terkendali, walaupun di sana-sini masih terdapat kekurangan dan kelemahan.

Kedua, mengajak seluruh keluarga besar bangsa untuk mengikuti dan mengawal tahapan-tahapan lanjutan pemilu hingga penetapan presiden dan wakil presiden terpilih oleh KPU secara definitif berdasarkan konstitusi dengan sikap tahap berkonstitusi.

“MUI meminta kepada semua pihak untuk tidak mengganggu proses konstitusi tersebut melalui cara-cara langsung ataupun tidak langsung,” kata Yusnar.

Yusnas menyebut tiga cara yang dapat menggangu proses konstitusi seperti melalui pemberitaan hasil hitung cepat (quick count) karena bersifat menggambarkan sesuatu yang belum pasti tapi dapat dan telah menimbulkan eforia berlebih dari rakyat pendukung, yang pada gilirannya dapat mengundang reaksi dari pihak lainnya

Cara berikutnya, melalui klaim kemenangan oleh kedua pasangan capres dan cawapres, yang dapat dan telah menimbulkan eforia dari pendukung masing-masing, hal mana berpotensi menimbulkan konflik di kalangan rakyat.

Berikutnya, melalui pemberitaan media massa, baik cetak, elektronik, maupun media sosial secara tidak berimbang yang menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat.

BACA JUGA!

GNPF Ulama akan Gelar Ijtima Ulama Keempat, Apa yang Dibahas?

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) akan menggelar Ijtima Ulama …