Reuni Akbar 212: Urgensi Kontrol Sosial pada Pemerintah

Reuni Akbar 212 yang dihadiri oleh jutaan manusia menimbulkan pesan mendalam pada tiap jiwa yang merasakan. Meskipun banyak rintangan yang menghadang para peserta, namun tak mampu menyurutkan semangat untuk menghadiri agenda besar tiga tahun terakhir ini.

Mereka hadir dengan mengorbankan harta, waktu dan tenaga guna mengambil peran dalam persatuan kaum muslim. Persatuan yang didasari atas dorongan keimanan mampu menjadi kekuatan yang menggetarkan untuk membela agamanya. Tanpa memandang organisasi, suku ataupun status umat Islam bertegur sapa dan saling mengingatkan satu sama lain.

Hal yang menarik dari aksi ini adalah umat Islam berada dalam barisan yang rapi, teratur, serta menunjukkan akhlak yang baik pada sesama muslim bahkan terhadap non muslim yang ikut serta dalam aksi tersebut.

Dikutip dari http://makassar.tribunnews.com – “Para peserta reuni Akbar 212 juga saling mengingatkan agar menjaga ketertiban. “Jangan menginjak rumput, nanti viral. Ayo lewat pinggir.” Ujar salah satu peserta. Mereka juga menghimbau teman – temaannya untuk menyimpan sampah dan membuang sampah yang telah disediakan”.

Dari sini bisa dilihat bahwa umat Islam memiliki kepedulian terhadap orang lain bahkan tumbuhan sekalipun. Tanpa rasa ragu, umat menerima nasehat yang dilontarkan dan mau membenahi kesalahannya. Koreksi ini mampu mengurangi kekeliruan serta menjadi kontrol sosial pada umat untuk mengajak pada ketakwaan kepada Allah. Kontrol sosial ini juga perlu diarahkan untuk mengoreksi kebijakan negara yang sering membuat umat Islam kecewa.

Urgensi Kontrol Sosial Pada Negara

Reuni 212 memberikan pelajaran kontrol sosial yang tinggi, sehingga peserta patuh dengan aturan. Hal ini perlu diarahkan pada kebijakan negara. Umat sudah merasakan begitu banyak kezaliman dari kebijakan negara yang anti rakyat. Negara membutuhkan kontrol sosial umat sehingga negara mampu menerapkan aturan Allah di semua lini kehidupan. Namun dalam sistem Kapitalis ini kontrol negara dilakukan oleh asing (baca : penjajah) agar Indonesia masih tetap dalam cengkeramannya. Negara bertindak sebagai pemilik segalanya dan masih setia mengikuti arahan asing serta mengorbankan kepentingan umat. Tanpa adanya kontrol sosial dari umat, maka negara masih terikat pada asing. Bebas untuk menjual segala asset yang dimiliki umat demi menyenangkan tuannya.

Untuk mengakhiri kedzaliman ini, muhasabah pada pemilik kekuasaan memiliki peranan yang penting. Sebagai bentuk kewajiban kaum muslim beramar ma’ruf nahi munkar yang harus dilaksanakan.

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali- Imran : 110)

BACA JUGA!

Cerita Lara di Hari Anti Tambang

Sejumlah organisasi masyarakat sipil memasang segel di depan pagar utama Kantor Kementerian Energi dan Sumber …