Sepuluh Kritera Ibadurrahman

Allah SWT telah menciptakan jin dan manusia untuk satu tujuan, yakni beribadah kepada-Nya. Tidak kepada yang lain dan tidak untuk yang lain. Allah SWT berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Ad Dzariyat : 56).

Imam Al Qurthubi mengutip Ali bin Abi Thalib ra mengatakan bahwa Illa liya’buduni artinya ialah Tidakkah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar Aku Perintahkan mereka untuk beribadah.

Dengan demikian, visi orang Muslim yang memiliki tujuan hidup hanya beribadah kepada Allah SWT adalah menjadi ahli ibadah yang terbaik yang dalam bahasa Al Qur’an disebut Ibadurrahman, para hamba Allah yang Maha Pengasih.

Tentang ibadurrahman ini Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al Furqan : 63-76).

Dari paparan ayat di atas, sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang Muslim yang mendapat gelar dari Allah SWT sebagai ibadurrahman adalah sebagai berikut:

1. Rendah hati dan tidak emosional
2. Mendirikan shalat malam
3. Senantiasa berdoa memohon agar diselamatkan dari azab neraka jahannam
4. Tidak kikir untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah dan tidak membelanjakan harta di jalan yang haram
5. Tidak berzina
6. Senantiasa memperbarui taubat dengan taubat yang sebenar-benarnya
7. Tidak memberikan kesaksian palsu
8. Tidak melibatkan diri dalam perbuatan yang tidak berguna
9. Benar-benar memperhatikan peringatan ayat-ayat Allah
10. Senantiasa berdoa agar diberi pasangan hidup serta keturunan yang qurrota a’yun

Untuk itu, seorang yang ingin mendapat gelar ibadurrahman harus menegaskan dirinya untuk tetap istiqomah menempuh jalan Allah.

Ada dua kunci yang harus dimiliki seorang Muslim dalam upaya meraih gelar ibadurrahman, yakni:

1. Senantiasa berikrar: “Aku ridho Allah menjadi Rabb-ku, dan Islam menjadi agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul (yang benar).

2. Harus senantiasa membaca dan merenungkan Al Qur’an untuk mencari pengetahuan (ma’rifat) dan pemahaman yang lebih banyak tentang sifat-sifat dan kekuasaan Allah, serta nama-nama-Nya yang terbaik (Asma’ul Husna), agar dapat ma’rifat (mengenal) Allah SWT.

Dengan ma’rifat yang sungguh-sungguh tersebut, seorang Mukmin akan bisa mencintai-Nya dengan tulus, hingga bisa mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya (mukhlishiina lahud diin) secara hakiki. Dengan demikian, ia akan bersungguh-sungguh dalam upaya meraih gelar ibadurrahman. [MSR/Civilita.com]

BACA JUGA!

Musibah Minus Muhasabah

Adalah Bapak Salihin warga desa Balaroa Palu Barat, di hari Jumat 4 Oktober mendatangi tim …