Serakah Awalnya, Tamak Pertengahannya, Licin Tandas Akhirnya

2019 suhu politik di negeri ini semakin memanas. Jelang pemilihan langsung anggota Legislatif dan Presiden, baik paslon maupun para pendukung dan timses mereka bahu membahu meyakinkan masyarakat dari berbagai level untuk memberikan suara mereka. Tak jarang ada yang menghalalkan segala cara untuk merebut simpati masyarakat, termasuk membangun opini dengan hoax.

Masyarakat netizen tentu tak lupa dengan aksi sekelompok ibu-ibu berbaju kuning yang mengatasnamakan Alumni UI mendukung salah satu paslon, Sabtu, 12 Januari 2019. Yang mengejutkan ternyata Ibu-ibu tersebut merupakan pendukung paslon tersebut yang berasal dari Cibitung. (Gelora News).

Ketua Umum Ikatan Alumni UI (Iluni UI) Arief Budhy Hardono mempersilakan siapa saja alumni UI melakukan dukungan kepada salah satu paslon. Namun, kata Arief, dukungan tersebut tidak boleh mengatasnamakan lembaga Alumni. Iluni UI akan berdiri secara netral untuk tidak berafiliasi kepada salah satu pasangan calon. “Karena atas nama lembaga kami dalam posisi netral,” tegasnya. (INDOPOS.CO.ID)

Begitulah pada hakikatnya demokrasi membentuk mental para pengikutnya. Untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan tak segan menghalalkan segala cara, tanpa memperhitungkan halal atau haram, benar atau salah. Karena arah pandangan hidup dari sistem demokrasi yang berasaskan sekulerisme bukanlah benar dan salah, tetapi kepentingan pribadi.

Kepemimpinan yang dilahirkan dari asas sekulerisme adalah kepemimpinan yang lemah. Kepemimpinan yang tidak berorientasi pada kepentingan masyarakat. Hanya fokus pada materi dan kekuasaan. Gemar menumpuk harta dan lalai dalam tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin masyarakat. Tidak heran jika hari ini, tak sedikit kita jumpai pemimpin, para pejabat, atau pemangku kekuasaan yang terjerat kasus korupsi, mangkir dari tugasnya melayani rakyat, dan segan menjadi pelindung masyarakat.

Sekulerisme telah sukses membina para penganutnya untuk hidup tanpa aturan sang pencipta, sehingga mewujudkan figur-figur pemimpin yang serakah dan tamak dalam harta dan kekuasaan. Yang pada akhirnya perilaku tercela tersebut menjerumuskannya pada kebinasaan.

Serakah awalnya, tamak pertengahannya, licin tandas akhirnya. Demikian peribahasa yang sesuai untuk menggambarkan sosok para penganut sekulerisme. Orang-orang yang telah dikaruniakan amanah dan tanggung jawab oleh Allah SWT untuk memimpin, namun ia lalai menjalankan amanahnya karena keserakahan dan buta akan harta dunia.

BACA JUGA!

Liberalisasi, Generasi Semakin Rusak

Baru-baru ini ada pemberitaan yang membuat miris yakni MT, mantan Kepala Sekolah di Kabupaten Soppeng, …