ilustrasi

Sistem Sekuler, Melahirkan Penguasa Pembohong

Lagi dan lagi. Isu penyebaran berita bohong atau hoaks kian marak dari hari ke hari. Begitu banyak himbauan untuk tidak menyebarkan hoaks namun tetap saja, masih banyak masyarakat yang membuat dan menyebarkan hoaks. Terlebih dalam tataran orang-orang berpengaruh serta para penguasa Negeri. Membuat hoaks dan menyebarkannya seperti menjadi hobi bagi mereka.

Baru-baru ini, mencuat kasus penyebaran hoaks mengenai tujuh kontainer kertas suara tercoblos yang digawangi oleh Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief, yang ia cuitkan dalam akun twitternya. Ia mencuit di akun twitternya seperti berikut, “Mohon dicek, kabarnya ada tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos di Tanjung Priok. Supaya tidak fitnah harap dicek kebenarannya. Karena ini kabar sudah beredar.”.

Politikus PDI Perjuangan, Ramon Dony Adam, menduga bahwa hoaks Andi Arief di Twitter sengaja dibuat untuk menciptakan polemik yang pada akhirnya berpotensi mendeligitimasi kredibilitas penyelenggara pemilu. Sebab, kalau tidak ada niat tersebut, Andi Arief cukup melaporkan hal tersebut ke KPU, Bawaslu atau kepolisian. (Dilansir dari Merdeka/03012019).

Sudah menjadi rahasia publik memang, bahwasanya pemilik kedudukan tertinggi seperti penguasa, memiliki potensi besar untuk menyebarkan hoaks. Karena memang penguasa memiliki andil dan pengaruh besar dalam pemberitaan Nasional. Tidak terkecuali dengan berita bohong atau hoaks. Bahkan, hoaks sudah menjadi makanan sehari-hari bagi rakyat. Rakyat sudah biasa mendengar dan melihat berita-berita bohong yang berkeliaran dimana-mana. Baik di dunia nyata ataupun dunia maya.

Berbohong atau menipu merupakan tabi’at dari sistem sekuler. Sistem sekulerlah yang melahirkan orang-orang, penguasa-penguasa, yang gemar membuat dan menyebarkan berita bohong. Mereka tidak segan-segan membohongi rakyatnya sendiri demi mendapatkan apa yang ingin didapatkannya. Begitulah fakta penguasa saat ini. Mereka menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan, tidak terkecuali dalam membohongi rakyatnya. Membuat berita-berita bohong, menyebarkannya, dengan harapan dapat mengubah sudut pandang masyarakat mengenai dirinya. Namun sayang, saat ini masyarakat sudah bisa membedakan mana berita bohong dan mana berita yang benar. Tetapi masih bayak juga masyarakat yang belum bisa membedakan hoaks dan berita asli.

Sudah menjadi hal yang wajar bila banyak hoaks yang bertebaran di rezim sekuler saat ini. Diterapkannya rezim sekulerlah yang melahirkan hoaks-hoaks yang ada saat ini. Hal ini pulalah yang membuat kepercayaan rakyat kepada penguasa sedikit demi sedikit hilang dan musnah. Padahal sudah seharusnya rakyat bisa dan mau mempercayai penguasanya karena kebaikan dirinya tanpa ada paksaan seikit pun. Namun di rezim saat ini, saling tidak percaya dan menipu satu sama lain adalah hal yang biasa dilakukan.

Satu-satunya solusi dalam menangani hoaks yang dilakukan oleh penguasa saat ini adalah diterapkannya Islam Kaffah. Dimana Negara mengadopsi penuh hukum-hukum Allah. Al-Qur’an dan As-Sunnah dijadikan pedoman dalam bernegara, dan syariat-syariat Allah dijadikan pegangan untuk memimpin Negara. Pemerintah juga akan memiliki rasa tanggung jawab penuh dalam memimpin rakyatnya. Mereka akan senantiasa jujur kepada rakyatnya dalam segala hal, tidak ada yang ditutup-tutupi. Rakyat pun akan segan dan hormat kepada penguasa atas dasar kepercayaan satu sama lain. Bukan karena ditakut-takuti atau bahkan diancam.

Maka, sudah saatnya kita mencampakkan rezim rusak ini, dan menggantinya dengan Islam. Karena hanya Islamlah yang bisa dan mampu menjaga ummatnya dari berbagai kebohongan yang dibuat oleh para pembenci Islam. Wallahu A’lam Bisshowab.

Azizah Nur Hidayah
(Pelajar, Member Akademi Menulis Kreatif)

BACA JUGA!

Menggapai Kebangkitan Hakiki

Wacana perubahan, menjadi topik hangat belakangan ini. Masyarakat menginginkan perubahan yang lebih baik. Kehidupan sulit …