Monumen Kresek di Madiun untuk mengingat korban keganasan PKI tahun 1848 di Desa Kresek,.

Sumur-sumur Tua Pembantaian PKI

“Katanya ada partai di dunia, itu membantai 120 juta orang, selama 74 tahun di 75 negara. Kemudian kata Aida dan Rania, ya..ya..120 juta orang yang dibantai. Setiap hari mereka membantai 4500 orang selama 74 tahun di 75 negara.” (Sastrawan H. Taufiq Ismail)

Tiga hari sebelum Pemberontakan PKI atau yang sering disebut Gerakan 30 September/PKI meletus, terjadi dialog antara anggota Comite Central (Politbiro) Partai Komunis Indonesia Sudisman dengan Kapuspen Hankam/KOTI Brigjen Sugandhi, SH.

Sugandhi: “Man, ini ada apa kok di kampung-kampung ada persiapan dan pembuatan sumur?”
Sudisman: “Sudahlah, jij ikut kita saja!”
Sugandhi: “…Ndak bisa Man saya ikut PKI, karena saya punya agama.”
Sudisman: “..Kalau jij ndak mau, memang kamu sudah dicekoki Nasution.”
Sugandhi: “Bukan soal dicekoki tapi soalnya adalah ideologi. Tapi bila jij akan meneruskan rencanamu pasti kau akan digilas dan akan habis Man.”
Sudisman: “..ndak bisa, kita akan pegang inisiatif, siapa yang memulai dan pukul dulu itu yang menang, percayalah pada kita, semuanya sudah kita perhitungkan masa-masak.”

Dialog di atas, dikutip oleh Jenderal Besar AH Nasution dalam bukunya “Peristiwa 1 Oktober 1965, Kesaksian Jenderal Besar Dr AH Nasution.” Dialog yang terjadi pada 27 September ini merupakan salah satu dari sekian bukti yang diajukan oleh Nasution untuk membuktikan bila Presiden Sukarno secara de facto merestui atau bahkan membantu G 30 S/PKI.

Bukan soal Bung Karno yang akan diulas dalam tulisan ini, tetapi soal sumur. Ya, soal sumur. Karena ternyata bila ditengok ke belakang, pada pemberontakan PKI 1948 di Madiun, mereka juga membantai para kyai, santri serta orang-orang yang mereka anggap sebagai musuh lalu dimasukkan ke dalam sumur-sumur tua. Enam jenderal TNI Angkatan Darat yang diculik pada 30 September malam pun pada akhirnya juga dibawa dan dimasukkan ke dalam sumur tua di kawasan Lubang Buaya.

Madiun Affair, tulis Taufiq Ismail dalam bukunya “Katastrofi Mendunia Marxisma Leninisma Stalinisma Maioisma Narkoba”, meletus dengan ditandai tiga kali letusan pistol pada Sabtu, 18 September 1948 pukul 03.00 dini hari.

“Kejadian itu terasa begitu mengerikan…beribu-ribu manusia dengan kelawang dan berbagai senjata memekik-mekik bagai serigala haus darah…mereka berduyun-duyun tak ada habisnya sambil terus memekik dan memaki-maki…kemudian menerjang dengan beringas dan penuh kebencian…”

Para kyai dan santri menjadi musuh utama PKI dan sasaran pembantaian mereka. Kalangan ini dianggap sebagai penentang dan penghalang tujuan-tujuan politik yang hendak mereka capai. Selain karena sebab utama, sebagai ideologi sampai kapanpun Komunisme akan bertentangan dengan Islam.

Dalam waktu singkat, pemberontakan PKI di Madiun telah menyebar dan mampu menguasai sejumlah wilayah di sekitarnya. Magetan sebagai wilayah terdekat, langsung jatuh ke tangan PKI. Dan pembantaian biadab yang dilakukan PKI terhadap santri dan kyai di Magetan ini menjadi catatan tak terlupakan dalam perjalanan umat Islam dan bangsa Indonesia.

Pembantaian Kyai Takeran

Di Magetan, pendukung PKI mengincar tokoh-tokoh dari Pesantren Takeran atau yang lebih dikenal dengan Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) yang dianggap sebagai musuh utama mereka. Sebab, Pesantren Takeran pimpinan Kyai Imam Mursjid Muttaqien yang masih berusia 28 tahun itu adalah pesantren yang paling berwibawa di kawasan Magetan.

Jumat, 17 September 1948, Kyai Hamzah dan Kyai Nurun yang berasal dari Tulungagung dan Tegal Rejo berpamitan kepada Kyai Imam Mursjid. Kepergian Kyai Hamzah dan Kyai Nurun ke Burikan itu ternyata untuk yang terakhir kalinya. Sebab pada Sabtu, 18 September 1948, Pesantren Burikan diserbu oleh PKI, dan tokoh-tokoh pesantren serta para santri, termasuk Kyai Hamzah dan Kyai Nurun yang masih ada di pesantren tersebut, diseret ke Desa Batokan yang berjarak 500 meter dari Pesantren Burikan. Kyai Hamzah dan Kyai Nurun termasuk diantara para korban yang dibantai oleh PKI di lubang pembantaian Batokan.

Kyai Imam Mursjid sendiri seusai shalat Jumat pada 17 September 1948, didatangi sejumlah tokoh PKI, seperti Suhud dan Ilyas alias Sipit. “Sipit sebenarnya santri Mas Imam Mursjid. Tapi entah mengapa dia bisa menjadi PKI,” ujar Kamil, salah seorang saksi mata. Menurut Kamil, Kyai Mursjid sendiri sudah tidak percaya terhadap Sipit karena ia sudah meninggalkan shalat.

Siang itu Kyai Imam Mursjid diajak keluar dari mushalla kecil di sisi rumah Kamil. Menurut Kamil, Kyai Mursjid akan diajak bermusyawarah terkait Republik Soviet Indonesia dengan PKI-nya. Rencana keberangkatan Kyai Imam Mursjid bersama orang-orang PKI itu tentu saja merisaukan warga pesantren.

Untuk meyakinkan warga Pesantren, Suhud, salah seorang pimpinan gerombolan PKI, mengeluarkan dalil dari Alquran. “Suhud waktu itu malah mendalilkan innallaha laa yughayyiru bi qaumin, hatta yughaiyyiru maa bi anfusihim (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mengubah nasib mereka sendiri),” kenang Kamil.

Saat itu para santri di Takeran berkumpul dengan perasaan was-was terhadap rencana kepergian kyai mereka bersama PKI. Setelah Suhud menenangkan suasana dengan dalilnya, di depan pendapa pesantren Kyai Imam Mursjid dinaikkan ke mobil. Tetapi sebelum mobil berangkat, Imam Faham, saudara sepupu Kyai Imam Mursjid sekaligus santrinya yang setia, meminta kepada PKI agar diperkenankan ikut naik mobil mendampingi gurunya itu. Permintaan Imam Faham itu disetujui oleh PKI. Mereka pun meluncur keluar kawasan pesantren.

Pada saat yang sama, ternyata Pesantren Takeran sudah dikepung oleh ratusan massa PKI. “Setelah Mas Imam Mursjid dibawa dengan mobil, saya melihat orang-orang PKI sudah berdiri melingkari pesantren. Mereka rata-rata berpakaian hitam dengan memakai ikat kepala merah dan bersenjata,” ujar Iskan, seorang saksi mata sambil menitikkan air mata mengenang gurunya yang sangat dipatuhi itu.

Menurut Iskan, PKI memang sudah mengancam, jika Kyai Imam Mursjid tak mau menyerah dan mendukung mereka, maka pesantren akan dibumihanguskan. Mungkin, kata Iskan, apabila Jumat siang itu Kyai Imam Mursjid tak berhasil dibawa PKI, bisa dipastikan pesantren akan dibakar dan dengan demikian korban akan sangat besar. Iskan menduga, Kyai Imam Mursjid mau ikut PKI untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih besar dari kalangan santri.

Pada Ahad, 19 September 1948, kurir PKI mendatangi pesantren dan menyampaikan pesan, Kyai Imam Mursjid belum bisa pulang. Mereka malah mengatakan perundingan tersebut membutuhkan kehadiran Kyai Muhammad Noer, sepupu Kyai Imam Mursjid yang juga mengasuh Pesantren Takeran. “Waktu itu mereka mengatakan bahwa Mas Imam Nursjid baru bisa pulang kalau Kyai Muhammad Noer datang menjemput,” kata Kamil.

Begitu mendengar pesan dari kurir itu, Kyai Muhammad Noer diam-diam mendatangi markas PKI di Gorang Gareng, 6 kilometer di sebelah barat Takeran. Tapi di tengah jalan, ia ditangkap PKI dan sempat ditawan di sebuah tempat di Takeran. Kurir PKI berulang kali datang lagi ke pesantren setelah Kyai Muhammad Noer dibawa ke Gorang Gareng. Dia mengatakan, Kyai Imam Mursjid dan Kyai Muhammad Noer baru bisa kembali setelah Ustaz Muhammad Tarmudji, adik Kyai Imam Mursjid yang juga sebagai tokoh pemuda, datang menjemput ke Gorang Gareng.

Mendapat informasi seperti itu, Tarmudji secepatnya menyelamatkan diri. Apalagi dia juga mendapat informasi bila dirinya saat itu yang dicari PKI. Tarmudji lolos, tetapi PKI menangkapi sejumlah tokoh pesantren seperti Ustaz Ahmad Baidawy, Muhammad Maidjo, Rofi’i, Tjiptomartono, Kadimin, Reksosiswojo, Husein, Hartono, dan Hadi Addaba’. Hadi adalah guru pesantren yang didatangkan dari Al-Azhar, Kairo.

Mereka itu, semuanya, pada akhirnya tidak pernah kembali lagi. Sebagian besar ditemukan sudah menjadi mayat di lubang-lubang pembantaian PKI yang tersebar di berbagai tempat di Magetan. Bahkan hingga tahun 1990, jenazah Kyai Imam Mursjid tak kunjung ditemukan. Dari daftar korban yang dibuat PKI sendiri -daftar ini ditemukan oleh pasukan Siliwangi-, nama Kyai Imam Mursjid malah tidak ada.

monumen-soco
Monumen Soco yang berisi nama-nama korban mati syahid akibat keganasan PKI di Madiun 1948.

Pembantaian Cigrok

Di Desa Cigrok, sebelah selatan Takeran, terdapat sumur tua yang digunakan PKI sebagai tempat pembuangan korban-korbannya. Sumur tua Cigrok ini terletak di belakang rumah To Teruno, seorang warga biasa dan bukan anggota PKI. Justru dialah yang melaporkan kegiatan PKI di sumurnya itu kepada Kepala Desanya. Di dekat rumah To Teruno, tinggal pula Muslim, seorang santri saksi mata kebiadaban PKI saat melakukan pembantaian di sumur tua itu.

Muslim bercerita, pada malam terjadinya penjagalan itu, semua orang tak berani keluar rumah. Malam itu, dia mendengar suara bentakan Surat, pimpinan PKI yang berasal dari Desa Petungredjo. Dia juga mendengar suara orang menjerit histeris karena dianiaya. Muslim, yang diam-diam mengintip melalui lubang dari rumahnya, melihat gerak-gerik orang-orang PKI itu dalam keremangan malam. Muslim dapat mengenali salah satu korban yang mengumandangkan azan dari dalam sumur. Suara itu, menurutnya adalah suara KH Imam Sofwan dari Pesantren Kebonsari.

Achmad Idris, tokoh Masyumi di Desa Cigrok yang ketika itu sudah ditawan PKI, menyaksikan penjagalan biadab PKI dari kejauhan. Meskipun sayup-sayup, dia sangat mengenal suara azan KH Imam Sofwan yang mengumandang dari dalam sumur itu, sebab Idris sering mendengarkan pengajian-pengajian Kyai Imam Sofwan.

Menurut Idris, pembantaian PKI di sumur Cigrok itu tidak dilakukan dengan senapan atau Klewang, tetapi dengan pentungan. Idris bercerita, para tawanan dengan tangan terikat dihadapkan ke arah timur sumur satu demi satu. Kemudian, seorang algojo PKI menghantamkan pentungan ke bagian belakang tiap tawanan tersebut.

Idris mengenang, ada tawanan yang segera setelah dihantam langsung menjerit dan roboh ke dalam sumur. Tetapi ada pula yang setelah dihantam, masih kuat merangkak sambil melolong-lolong kesakitan. Tangan mereka menggapai-gapai mencari pegangan. Melihat para korban merangkak seperti itu, orang-orang PKI kemudian menyeret begitu saja dan memasukkan mereka hidup-hidup ke dalam sumur. Kyai Imam Sofwan, menurut Idris, termasuk yang tidak meninggal setelah dihantam pentungan. Hal serupa juga dialami oleh kedua putra beliau, yakni Kyai Zubair dan Kyai Bawani, yang dibantai di sumur tua Desa Kepuh Rejo, tak jauh dari sumur Cigrok.

Orang-orang PKI yang melihat ternyata ada korban yang masih hidup di dalam sumur, dengan beringasnya lantas menimbuni sumur tersebut dengan jerami, batu, dan tanah. Karena itulah, benar adanya pernyataan yang menyebutkan korban pemberontakan PKI 1948 sejatinya dikubur hidup-hidup.

Muslim mengaku, pada pagi hari seusai pembantaian dia mendapati lanjaran (rambatan) kacang dan jerami di kebunnya sudah habis. “Rupanya orang-orang PKI membabat semua itu untuk menimbuni sumur,” tutur Muslim yang diancam oleh PKI agar tutup mulut.

Korban yang dimasukkan ke lubang pembantaian Cigrok sedikitnya berjumlah 22 orang. Di antara para korban itu, ada KH Imam Sofwan, Hadi Addaba’ dan Imam Faham. Imam Faham adalah santri Kyai Imam Mursjid-Takeran yang ikut mengiringi gurunya ketika dibawa mobil PKI. Rupanya di tengah jalan kyai dan santrinya itu dipisah. Imam diturunkan di tengah jalan dan akhirnya ditemukan di dalam lubang pembantaian Cigrok.

Kisah Kyai Roqib dan Kyai Daenuri

Di sebuah kampung di Kota Magetan, Kauman namanya, terdapat seorang pedagang keliling yang juga seorang guru ngaji, Kyai Roqib namanya. Pada 1948, saat usianya belum genap 20 tahun guru ngaji ini ditangkap PKI dan terjadilah peristiwa yang mengerikan itu.

Dia mengaku pernah didatangi oleh 12 orang anggota PKI, pada 19 September 1948, sekira pukul 03.00 dini hari. Dalam keadaan langit masih gelap, Roqib digiring ke Desa Wringin Agung.

“Setiba di Wringin Agung, saya dimasukkan ke dalam rumah yang gelap sekali. Dari bisik-bisik mereka, saya tahu bahwa Asrori, guru madrasah di Kauman itu sudah dibunuh di Dadapan,” kenang Roqib. Setelah seharian dikurung, Roqib kemudian digiring oleh orang-orang yang berpakaian tentara ke arah selatan.

Setiba di Dusun Dadapan, Desa Bangsri, Roqib sekonyong-konyong diseret ke lubang pembantaian di tepi tegalan yang ditanami ketela pohon. Di lubang pembantaian tersebut, kedua tangan Roqib ditarik berlawanan arah oleh orang-orang PKI dan kakinya ditekan supaya terduduk. Dalam keadaan seperti itu, Rokib sadar bahwa dia akan disembelih oleh FDR/PKI seperti mayat-mayat yang bergelimpangan dalam lubang di depannya.

“Waktu itulah saya mendadak ingat pelajaran pencak yang pernah saya peroleh dari pesantren,” tutur Roqib yang pernah nyantri di Pesantren Mamba’ul Ulum, Walikukun itu. Maka dengan gerak reflek, Rokib menghentakkan tangan kirinya sambil menendangkan kaki ke samping hingga berhasil melepaskan tangannya dari pegangan orang PKI. Kemudian dengan sekuat tenaga, Roqib lari menghindari kepungan orang-orang PKI.

“Hooii… tawanane ucul!,” teriak orang-orang PKI seperti yang ditirukan Roqib, saat mereka mengejarnya di antara tanaman ketela pohon dan semak yang lain. Tetapi pelarian Rokib itu hanya beberapa jam saja. Sebab menjelang siang hari, dia tertangkap lagi oleh PKI di tengah tegalan. Setelah tertangkap, Roqib mengungkapkan dirinya digebuki habis-habisan oleh PKI. Hampir sepekan Roqib diikat dengan erat dan disatukan dengan sekitar 300-an orang tawanan yang lain. Kemudian dia digiring ke timur menuju Gorang Gareng.

Tetapi, ajal belum mendatanginya. Roqib selamat dari pembantaian PKI yang membabi buta di kamar-kamar loji Gorang-Gareng itu.

“Saya bersama dua orang yang selamat, berusaha bangkit dari timbunan mayat (orang-orang yang dibantai PKI). Astaghfirullah…ruangan ini benar-benar banjir darah. Saya masih ingat, ketika Siliwangi datang pada lewat tengah hari, pintu kamar didobrak dari luar. Daun pintunya sempal dan roboh, jatuh ke lantai. Saking banyaknya darah membanjir di lantai, daun pintu yang tebalnya lebih 4cm itu mengapung di atas genangan darah. Saya melangkah ke luar pun, merasakan betapa banjir darah yang menggenang di lantai kamar dan sepanjang koridor, mencapai di atas mata kaki saya,” kisah Kiyai Roqib seperti ditulis Halwan Aliuddin 2005 lalu.

Lain lagi kisah dari Kiyai Daenuri. KH Achmad Daenuri adalah pimpinan Pondok Pesantren Ath Thohirin, Mojopurno, Magetan. Ia adalah salah satu putra KH Soelaiman Zuhdi Affandi, salah satu korban kekejaman PKI 1948. Menurut Daenuri, ayahnya ditangkap PKI, bersamaan dengan ditangkapnya Bupati Magetan Sudibjo. Sementara adik kandung ayahnya, KH. Imam Sofwan yang menjadi pimpinan Pesantren Kebonsari, ditangkap PKI bersama dengan dua putranya yakni Kyai Zubair dan Kyai Bawani.

Pada 1948, Kyai Daenuri baru berusia 10 tahun. Ia melihat ayahnya Kiyai Affandi ditangkap PKI dengan cara licik. “Ketika beliau sedang iktikaf di Masjid, dibopong dari belakang dan diculik,” terangnya. Kiyai Affandi diseret-seret dan disekap bersama ratusan tawanan lain, umumnya tokoh agama dan partai, di rumah loji Belanda di kawasan Pabrik Gula Gorang-Gareng (kini Pabrik Gula Rejosari, Magetan).

Dari tempat penyekapan ini, ayahnya bersama sejumlah tawanan lain dipindahkan ke desa Soco, Magetan dengan menggunakan kereta api lori pengangkut gula dan tebu. Gerbong kereta sangat sempit dan dijejali puluhan tawanan lain. Kyai Daenuri mendapat kesaksian tentang kematian ayahnya ini dari beberapa tawanan lain yang selamat. Selama dalam penyekapan itu ayahnya mendapat siksaan yang keji, namun berbagai penyiksaan itu tidak mampu membunuh ayahnya.

“PKI jengkel menghadapi kyai yang demikian digdaya, tidak mempan senjata tajam apapun bahkan kebal peluru senjata api. Karenanya pada suatu kesempatan, ketika beliau meminta izin untuk mengambil air wudhu, seorang anggota PKI mendorong beliau hingga tercebur ke dalam sumur. Segera setelah itu sumur ditimbun dengan puluhan hingga ratusan jenazah lain dari para syuhada. KH Soelaiman Zuhdi Affandi dikubur hidup-hidup oleh PKI,” papar Kiyai Daenuri.

Kekejian yang dilakukan PKI terhadap Kiyai Dimyathi (Mbah Ngompak) lebih mengerikan lagi. “Ketika tengah melakukan shalat malam, Mbah Ngompak diseret keluar masjid, kemudian diikat, dan akhirnya diseret dengan menggunakan kuda hingga sejauh 10 km mencapai Kota Kawedanan Walikukun, Ngawi. Kabarnya ketika itu, Mbah Ngompak belum juga wafat. Penyeretan kemudian kembali dilakukan ke arah Ngrambe. Namun setelah berjalan sejauh empat kilometer, orang-orang PKI itu berhenti di sebuah jembatan di kawasan Wot Galeh. Dari atas jembatan ini, tubuh Mbah Ngompak dilempar ke sungai yang curam. Jasad beliau ditemukan sudah dalam kondisi yang sangat mengenaskan,” tutur Kiyai Damami, salah seorang cucunya yang kini tinggal di Pesantren Tanjungsari, Jogorogo, Ngawi.

Bupati Magetan, Sudibjo juga tak kalah sadisnya dibantai PKI. Algojo PKI merentangkan tangga melintang sumur, lalu Sang Bupati itu dibaringkan di atasnya. Ketika dalam posisi terlentang itu, maka algojo menggergaji tubuhnya sampai terbelah menjadi dua bagian, dan langsung dijatuhkan ke dalam sumur. Nauzubillah.

Ada pula kisah seorang ibu, Nyonya Sakidi namanya. Ibu itu mendengar suaminya dibantai PKI di Soco. Dia menyusul kesana, sambil menggendong kedua anaknya yang berusia tiga tahun dan setahun. Dia nekad ingin melihat jenazah suaminya. Merasa repot menuruti keinginan perempuan itu, PKI lalu membantai perempuan malang itu, ia dimasukkan ke dalam sumur yang sama, sementara kedua anaknya melihat pembunuhan ibunya. Saking traumanya kedua anak tersebut selama berhari-hari hanya makan kembang, akhirnya adik Sakidi menyelamatkan kedua keponakannnya itu dan membawanya pergi keluar dari Magetan.

Kekejaman, kebuasan dan keganasan pengkhianatan PKI Madiun 1948 ini masih melekat dalam ingatan traumatik penduduk Takeran, Gorang Gareng, Soco, Cigrok, Magetan, Dungus, Kresek, dan sekitarnya. Sehingga ketika 17 tahun kemudian PKI meneror di Delanggu, Kanigoro, Bandar Betsy dan daerah lain dalam pemanasan Pra-Gestapu atau PKI, dengan klimaks pembunuhan enam jenderal pada 30 September 1965, warga Jawa Timur masih ingat secara persis apa yang terjadi 17 tahun silam.

Cukuplah bagi bangsa ini dua kali dikhianati oleh PKI. Tak terhitung jumlah umat Islam, para santri dan kyai, yang mereka bantai dan dimasukkan ke lubang-lubang sumur tua.

Kini, 68 tahun sudah berlalu Peristiwa Pemberontakan PKI Madiun dan 51 tahun berlalu G 30 S/PKI, rupanya bibit-bibit kebangkitan PKI bersemai lagi dalam bentuk PKI Gaya Baru. Anak cucu para pemberontak dan pembantai itu tak segan-segan lagi menampakkan identitas mereka sebagai anak PKI, bahkan dengan bangganya menulis buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI.” Mereka kini merangsek masuk ke pemerintahan dan legislatif.

Bersamaan dengan itu, mereka yang didukung oleh aktivis-aktivis LSM, terus menyuarakan pencabutan Tap MPRS No. XXV/1966 tentang larangan PKI dan Komunisme. Lebih dari itu, suara nyaring supaya negara meminta maaf kepada PKI juga terus terdengar.

Lalu, bagaimana dengan umat Islam?. Cukup bagi umat Islam satu pepatah “Hanya keledai yang jatuh ke lubang (sumur) yang sama dua kali.” Panutan umat Islam, Nabiyullah Muhammad Saw, 14 abad yang lalu sudah memberikan wejangan, “Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama.” Semoga umat ini selalu sadar, waspada dan dijaga Allah Swt. Amin.

[shodiq ramadhan/jejakislam.net/sharia.co.id]

BACA JUGA!

Tausiyah MUI Jelang Idul Fitri: Tingkatkan Kepedulian pada Dhuafa

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah, Dewan Majelis Ulama Indonesia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *