Tangkal Isu Radikalisme di Kampus

Pemuda adalah pembawa perubahan, jika mereka baik maka baik juga perubahan yang dibawa. Jika mereka buruk maka buruk juga perubahan yang dibawa.

Kata-kata mutiara diatas menunjukkan peran pemuda terhadap perubahan suatu bangsa, karena pemuda adalah generasi penerus bangsa maka baik buruknya pemuda akan mempengaruhi nasib bangsa tersebut kedepannya.

Munculnya isu radikalisme di kampus akan membawa dampak buruk untuk kebangkitan umat. Seperti dilansir dari, bnpt.go.id -Infiltrasi radikalisme dan terorisme yang menyeluruh tidak luput pula mengancam lingkungan pendidikan. Perguruan tinggi salah satunya, memiliki ancaman serupa yaitu masuknya bibit-bibit radikalisme dan terorisme di kalangan akademisi baik mahasiswa maupun tenaga pengajar. Oleh karena itu pada musim penerimaan mahasiswa baru Kepala BNPT mengunjungi perguruan-perguruan tinggi untuk membekali mahasiswa dan segenap civitas. Kali ini, Kepala BNPT mengunjungi Universitas Widyatama Bandung untuk memberikan pembekalan resonasi kebangsaan serta bahaya radikalisme dan terorisme. (6/9/2018)

Dilansir dari detiksnews.com -Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan penentuan pemimpin di perguruan tinggi negeri atau rektor kini harus dipilih presiden. Menurutnya hal ini dilatar belakangi oleh tanggung jawab rektor dalam proses penyeragaman.

“Penentuan rektor ya selama ini oleh Dikti, hasil komunikasi kami dengan Mensesneg dengan bapak Presiden, Pak Mendikti, saya kira terakhir (penentuannya) harus dari bapak presiden,” kata Tjahjo di kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (1/6/2017)

Upaya melawan radikalisme di kampus adalah upaya untuk menjauhkan potensi kebangkitan berpikir Islam dikalangan pemuda/mahasiswa. Karena mereka tahu bahwa kebangkitan umat Islam berawal dari kebangkitan pemuda. Sebagaimana kita tahu bahwa Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. (Wikipedia)

Pemuda adalah penggerak perubahan bagi suatu bangsa, demikian pula dengan pemuda muslim mereka banyak memberikan kontribusi kepada perjuangan Islam. Mereka mampu menggerakkan roda-roda dakwah di sekolah, kampus, dan lingkungan masyarakat sehingga membangkitkan kesadaran umat tentang pentingnya Islam sebagai pengatur kehidupan.

Lembaga dakwah kampus adalah salah satu sarana dakwah pemuda Muslim, jika lembaga dakwah kampus dijadikan sasaran tembak isu radikalisme jelas bahwa isu radikalisme di kampus menyasar Islam.

Lantas apa buktinya bahwa mahasiswa muslim itu radikal? Apa karena mahasiswa muslim bersikap kritis terhadap pemerintah? Jika mahasiswa kritis dianggap radikal maka sudah dari dulu mahasiswa disebut radikal karena faktanya sejak zaman orba mahasiswa sudah mengkritik pemerintah jika ada kebijakan-kebijakan yang memberatkan rakyat. Karena mahasiswa adalah corong intelektual masyarakat maka kekritisannya menjadi penyambung lidah rakyat dalam menyampaikan aspirasi.

Isu radikalisme adalah bentuk propaganda keji membungkam mahasiswa agar mahasiswa tidak lagi mengurusi urusan umat dan tidak lagi bersikap kritis terhadap pemerintah.

Didalam Islam pemuda memiliki peran penting dalam kebangkitan dan perubahan umat. Bisa dilihat dari para sahabat rasul yang semangat jihad dan dakwahnya tinggi banyak dari kalangan pemuda, salah satunya adalah Mus’ab bin Umair yang berperan dalam tegaknya daulah Islam di Madinah.

Pemuda di setiap zaman merupakan ujung tombak yang memiliki andil besar dalam Islam. Seorang pemuda hebat seperti Usamah bin Zaid yang di usia 18 tahun sudah menjadi panglima perang menghadapi Romawi, Umar bin Abdul Aziz usia 22 tahun menjadi Gubernur Madinah, Imam Syafi’i usia 15 tahun sudah menjadi seorang mufti, dan Muhammad Al-Fatih pada usia 22 tahun sudah menjadi sultan bahkan setelah 2 tahun menjabat berhasil menaklukkan benteng legendaris Konstatinopel pada usia 24 tahun.

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Maka hanya dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam sebuah institusi, pemuda muslim akan menjadi generasi gemilang yang akan membangun peradaban terbaik dengan Islam. Wallohu a’lam bishowab.

Rosmita
(Pemerhati Generasi Muda, tinggal di Jakarta)

BACA JUGA!

Pertemuan IMF-WB di Bali, Heroisme yang Antiklimaks

“Jokowi Sebut Asia-Afrika Tak Butuh Bank Dunia dan IMF” demikian judul yang dibuat Tempo.co, pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *