Tausiyah MUI Jelang Idul Fitri: Tingkatkan Kepedulian pada Dhuafa

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah, Dewan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan tausiyah kepada seluruh umat Islam. Tausiyah MUI disampaikan dalam konferensi pers di Kantor MUI, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat siang 31 Mei 2019.

Hadir dalam konferensi pers itu sejumlah Ketua MUI Pusat seperti KH Muhyiddin Djunaidi, KH Abdullah Jaidi, Prof Dr Hj Huzaemah T Yanggo, KH Masduki Baidlowi, KH Sodikun dan Wakil Sekjen Amirsyah Tambunan.

Dalam tausiyahnya disebutkan, setelah menjalani ibadah Ramadhan sebulan penuh MUI mengajak umat Islam meningkatkan kepatuhannya terhadap ajaran Islam dan meningkatkan kepedulian terhadap kaum dhuafa.

“Mengajak kepada Umat Islam agar selelah menjalani seragkaian ibadah selama bulan Ramadhan dapat lebih meningkatkan kepatuhannya terhadap ajaran Islam dan kepeduliannya terhadap sesama, terutama kepada kaum dhuafa, fakir-miskin ,dan anak yatim piatu,” ujar Wasekjen MUI, Amirsyah Tambunan saat membacakan tausiyah MUI di Kantor MUI, Jumat (31/5).

Untuk meningkatkan kepedulian terhadap mereka, maka umat Islam diimbau untuk mengeluarkan zakat fitrah melalui lembaga-lembaga resmi. Demikian juga ketika umat Islam akan mengeluarkan zakat harta, infaq, sedekah, dan wakaf maka sebaiknya dikeluarkan melalui lembaga berbadan hukum.

“MUI mengimbau agar dalam pembagian zakat, infaq, dan sedekah dilakukan dengan menyalurkannya melalui lembaga yang resmi seperti Baznas dan Lembaga Amil Zakat lainnya,” ucap Amirsyah.

Namun jika hal itu tidak dapat dilakukan dan memilih menyalurkannya langsung kepada para mustahiq, maka harus dilakukan dengan perencanaan yang baik dan benar. “Jika diperlukan dikoordinasikan dengan aparat keamanan terkait, supaya tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan,” kata Amirsyah.

Di momen Idul Fitri, MUI juga mengajak kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk menjadikan hari raya ldul Fitri sebagai momentum memperkuat dan memperkokoh ikatan dan hubungan antar sesama saudara, antar sesama masyarakat, dan antar sesama warga bangsa. Apalagi, masyarakat Indonesia baru saja melaksanakan Pemilu 2019.

“Perbedaan aspirasi politik merupakan hal biasa yang harusnya dipandang sebagai rahmat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan menjadi penyebab terjadinya saling marah, saling benci, serta saling mencerca dan mencaci maki,” jelas Amirsyah. [MS]

BACA JUGA!

GNPF Ulama akan Gelar Ijtima Ulama Keempat, Apa yang Dibahas?

Jakarta (PIKIRAN UMAT) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) akan menggelar Ijtima Ulama …