The Invisible Hand dalam Konteks Deislamisasi

Kurikulum pendidikan negeri ini hanya memberi jatah pelajaran agama Islam sebanyak 2×45 menit dalam seminggu. Konten Pendidikan Agama Islam (PAI) pun tak jauh-jauh seputar rukun iman, rukun Islam, akhlak, ditambah pernikahan ketika di bangku SMA. Itu saja terulang-ulang sejak SD hingga SMA.

Islam hanya diajarkan sebagian, hanya dimensi habluminallah dan secuil binafsi juga setitik hablumminannas. Tanpa dikaitkan dengan aqidah, akhirnya hanya sekedar maklumat, tak sampai pada perubahan pola pikir, karena tak ada tujuan membina. Dengan fakta demikian, harapan mewujudkan peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, laksana pungguk merindukan bulan, jauh panggang dari api.

Nafas sekulerisme dari sistem kapitalisme yang melingkupi negeri ini, telah merasuki semua elemen negeri. Termasuk sistem pendidikan, tanpa terkecuali PAI. Tak sedikit siswa yang hafal ayat tentang larangan mendekati zina namun dia sendiri pelaku aktif pacaran. Tak ada sinkronisasi antara pengetahuan dan sikap siswa. Siswa yang berpacaran tak akan kena sanksi apapun, kedudukannya sama dengan siswa yang tidak berpacaran. Bahkan ketika ada siswa yang sudah berzina dan hamil pun, beberapa sekolah tak berani mengeluarkan siswi tersebut, dengan alasan hak anak untuk mendapatkan pendidikan.

Orang tua sudah terlanjur sibuk bekerja mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi berlangsungnya kehidupan rumah tangga. Orang tua berharap sekolah mampu menangani anaknya agar bisa menjadi anak yang berbakti. Ternyata, tak cukup mampu pelajaran PAI ini membentengi siswa dari perilaku maksiat. Guru PAI justru hanya mampu menghimbau, tak bisa mengambil sikap ketika banyak kegiatan sekolah yang memfasilitasi kemaksiatan. Guru PAI tak berani tegas melarang siswa melakukan kemaksiatan. Setali tiga uang, sekolah pun memiliki mental yang sama dengan guru PAI nya.

Jika keluarga tak cukup mampu, sekolah pun demikian. Harapan berikutnya ada pada masyarakat. Ternyata masyarakat kita telah tercemar pemikiran individualisme, buah sistem kapitalisme. Jangankan mencegah kemungkaran, mengajak berbuat kebaikan pun sudah luntur tergerus sikap individualis. Melihat kemungkaran di depan mata pun tak tergerak untuk merubah atau menasehati, justru membiarkan dengan alasan khawatir mencampuri urusan orang lain.

Satu pilar penopang, bahkan dialah yang utama, yang mampu menjaga keimanan dan ketakwaan seluruh warga negara. Pilar itu adalah negara. Jelas bukan negara demokrasi yang justru memfasilitasi kemaksiatan atas nama HAM. Jelas bukan negara demokrasi yang segala aturannya buatan manusia, hingga lahir ketidakadilan dimana-mana.

Negara itu haruslah memiliki seperangkat aturan yang bukan buatan manusia, yang memiliki standar benar dan salah secara tetap dan pasti, hingga keadilan akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Negara yang memiliki suasana perlombaan dalam beramal sholeh, yang senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Negara itu hanyalah negara yang menerapkan syariat Allah, yaitu Khilafah.

Pembahasan tentang khilafah ini telah masyhur di kalangan ulama salaf. Jumhur ulama pun menyepakati kewajiban adanya khilafah. Kesepakatan itu diambil dari realitas syariat Allah yang tak bisa diterapkan secara sempurna tanpa adanya sebuah sistem atau negara. Lihatlah perintah Allah tentang larangan riba, bagaimana kita menerapkannya tanpa peran negara? Bacalah perintah Allah tentang qishash, jihad, bahkan puasa dan zakat sekalipun. Kita perlu negara yang menerapkan dan menjaganya. Tak bisa individu. Kesepakatan itu juga merujuk pada Sunnah Rasul tentang pentingnya mengangkat seorang pemimpin yang melaksanakan hukum syariat. Kesepakatan itu juga bersandar pada Ijma’ sahabat yang menunda pemakaman jenazah Rasulullah hingga terpilih pengganti Rasulullah untuk memimpin Daulah Islam.

Akuntablitas khilafah telah terbukti sepanjang 1.400 tahun. Tak ada ideologi dan peradaban yang bertahan dalam kurun waktu yang panjang sebagaimana khilafah. Dan tak ada peradaban yang mampu menghimpun 2/3 wilayah dunia dengan kesatuan yang kokoh. Bahkan saat Khilafah runtuh pun, negeri-negeri yang pernah berada dalam naungan Khilafah masih memiliki benih-benih persatuan dan kerinduan untuk bersatu lagi.

Ideologi kapitalisme yang saat ini mengatur dunia, belum seabad pun sudah mulai terasa kebobrokan dan terlihat tanda-tanda kehancurannya. Terlebih ideologi sosialis komunis, ia hanya mampu bertahan dalam waktu kurang dari 10 tahun. Tersebab kedua ideologi ini buatan manusia sehingga sarat dengan kepentingan segelintir orang.

Khilafah senantiasa menjadi negara adidaya, bahkan pada masa kemundurannya. Tak ada negara yang berani menyelisihi keputusan yang dibuat oleh khalifah. Khilafah senantiasa hadir untuk menjaga akal, keturunan, jiwa, harta, kehormatan, agama, keamanan, dan kesatuan negara. Penjagaan ini dilaksanakan secara adil bagi seluruh warga Daulah, tanpa membedakan suku, ras, dan agama.

Demikian mumpuninya sistem Khilafah, semestinya kita bersemangat untuk mempelajarinya serta memperjuangkannya. Logisnya, khilafah ini menjadi materi wajib di kurikulum PAI, agar generasi paham Islam ideologis. Namun harapan itu tak terwujud, yang terjadi justru sebaliknya. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Semarang menolak paham khilafah (detik.com, 17/03/2019).

Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh. Belajar dari sejarah bagaimana Barat meruntuhkan Daulah Khilafah. Barat tidak menggunakan tangannya sendiri, namun mereka menggunakan para cendekiawan muslim untuk menjadi perpanjangan tangan mereka. Cendekiawan muslim itu telah mereka biayai dan didik sehingga pola pikirnya sesuai dengan apa yang dikehendaki Barat. Jadilah mereka para agen Barat berwajah muslim. Cara ini berhasil, hingga Daulah runtuh di tangan seorang pengkhianat Islam, Mustafa Kemal Attaturk. Dia yang mengumumkan bahwa Khilafah telah runtuh dan digantikan dengan Republik Turki, sesuai dengan sistem pemerintahan Barat.

Keberhasilan cara ini akan terus diulang oleh Barat untuk mengokohkan hegemoninya di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia. Cara ini pula yang dilakukan Barat untuk menghambat kebangkitan Islam. Barat gunakan pribumi muslim sebagai perpanjangan tangannya untuk mencegah kebangkitan Islam. Satu diantara perpanjangan tangan itu adalah para guru PAI yang belajar Islam bukan dari ulama salaf, namun dari bagaimana Barat memandang Islam.

Segala upaya menjegal tegaknya Khilafah akan berakhir sia-sia. Karena khilafah adalah janji Allah dalam Al-Qur’an surah An-Nuur ayat 55. Khilafah juga bisyarah (kabar gembira) dari Rasulullah: …kemudian akan ada kekhilafahan yang mengikuti metode kenabian. (HR. Ahmad). Menghalangi tegaknya khilafah, laksana menghalangi terbitnya matahari. Tak akan bisa dan tak akan mampu. Wallahu a’lam.[]

Mahrita Julia Hapsari, M.Pd
Praktisi Pendidikan

BACA JUGA!

FPI dalam Sorotan, Akankah Ada Keadilan?

20 Juni 2019 adalah tanggal habisnya masa SKT (Surat Keterangan Terdaftar) milik FPI (Front Pembela …