Prabowo Subianto di Pamekasan.

The New Prabowo

Prabowo itu temperamennya emosional, pemarah dan galak. Kasar terhadap sesama, tak segan-segan menculik dan menghilangkan nyawa orang lain. Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono, menyebutnya psikopat. Apa itu psikopat?. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), psikopat adalah orang yang karena kelainan jiwa menunjukkan perilaku yang menyimpang sehingga mengalami kesulitan dalam pergaulan. Ngeri pokoknya membayangkan sosok seorang Prabowo.

Prabowo, sama seperti kita, adalah manusia biasa. Dia bukan malaikat yang suci. Dia juga bukan Nabi yang selalu taat dan benar. Sebagai manusia biasa, dia bisa khilaf, salah dan berbuat dosa. Ini yang harus dipegang dulu, sebelum nanti keluar tanggapan bila tulisan ini dianggap ‘mendewakan’ Prabowo. Sama sekali tidak.

Tapi, terkait semua tudingan dalam paragraf pertama di atas, sejatinya itu semua hanya stigma. Mitos. Kalau bahasa kerennya hari ini, hoaks belaka. Citra negatif yang sengaja terus ditempelkan kepada putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo itu. Cerita itu terus menerus diproduksi dan disebarluaskan oleh lawan-lawan politiknya. Qila wa qala, katanya dan katanya.

Faktanya, hampir semua stigma itu hari ini terbantahkan. Perilaku Prabowo alami. Bukan settingan. Dia itu orang yang paling ikhlas kepada rakyat Indonesia, kata mendiang Gus Dur. Saat bertemu masyarakat, dia mencium anak-anak bahkan menggendongnya, itu bukan rekayasa kamera.

Prabowo bukan orang yang pandai berpura-pura. Ia tak pernah menutup-nutupi bila dirinya seorang yang kaya raya. Karena itu ia tak pernah berpura-pura menjadi miskin dan mencitrakan dirinya sebagai orang yang ‘sederhana’. Prabowo, misalnya, merasa tidak perlu untuk naik Bajaj ke KPU untuk mencitrakan dirinya sebagai orang yang sederhana, padahal ia memiliki mobil Lexus.

Prabowo memang konglomerat, tetapi ia sangat peduli dengan kaum melarat. Kepeduliannya kepada wong cilik muncul bukan menjelang jadi calon presiden, tapi sejak ia mengabdikan dirinya sebagai tentara. Puluhan tahun yang lalu.

Mantan Pangkostrad ini dikenal sangat dekat dengan para ulama, kiai dan habaib. Sikap-sikap politiknya, selalu memihak kepentingan umat Islam. Dalam soal kriminalisasi ulama, ia terang-terangan berpihak kepada para ulama. Di berbagai forum ia menyebut Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) adalah sahabatnya. Dia berjanji, jika terpilih menjadi presiden akan menjemput Habib Rizieq.

Prabowo pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus. Menjadi komandan pasukan khusus, kata Prabowo, seperti memimpin kumpulan singa. Tidak mungkin dia “klemar-klemer”. Ada ungkapan terkenal: seribu kambing dipimpin seekor singa, mengaum. Sebaliknya, seribu singa dipimpin seekor kambing, mengembek.

BACA JUGA!

Liberalisasi, Generasi Semakin Rusak

Baru-baru ini ada pemberitaan yang membuat miris yakni MT, mantan Kepala Sekolah di Kabupaten Soppeng, …