Tipu Daya di Balik Jargon Pemberdayaan Perempuan

Lagi-lagi motif ekonomi yang melatarbelakangi pilihan pemerintah tersebut. Kontribusi TKW cukup besar dalam memberikan sumbangan devisa Negara, sampai-sampai mereka dijuluki pahlawan devisa. Sungguh miris. Ditambah fakta lainnya yang menunjukkan eksploitasi fisik, seksual, dan finansial yang marak terjadi di pabrik-pabrik atau perusahaan yang menempatkan lebih dari separuh karyawannya adalah perempuan. Hal ini karena pekerja perempuan lebih menguntungkan dilihat dari segi ketekunan, dan ketelitian, juga dipandang lebih penurut dan murah.

Apa daya, publik benar-benar tertipu dengan jargon-jargon manis yang terlahir dari sistem kapitalis ini. Melalui dalih pengentasan kemiskinan, demi peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, perempuan dipaksa untuk keluar rumah. Mereka beramai-ramai bekerja untuk mendapatkan penghasilan lebih. Bahkan negarapun dituntut memberdayakan kaum perempuan agar roda ekonomi berputar makin laju.

Pada akhirnya bukan pengentasan kemiskinan yang mereka dapat. Bukan pula peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan yang mereka capai. Akan tetapi masalah baru yang semakin membuat kehidupan kaum perempuan kian carut marut. Angka perceraian meningkat, anak-anak broken home semakin banyak akibat perceraian tersebut, perselingkuhan merebak, tindakan kriminalitas dan kekerasan fisik pun ikut bertambah.

Demikianlah jika menuruti sistem yang salah. Sistem sekuler-kapitalis hanya menjadikan kaum perempuan sebagai komoditas ekonomi. Para penguasa modal tak akan berpikir akan efek samping perbuatannya karena tujuan hidup mereka hanyalah ekonomi, kekayaan, dan uang. Bukan yang lain.

Oleh karena itu, kaum perempuan seharusnya sudah mulai menyadari bahwa jargon pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender hanyalah alat untuk bisa mengukuhkan eksisitensi sistem kapitalisme. Bagi pengabdi sistem kapitalis perempuan adalah salah satu sumber penghasilan mereka, sehingga tak segan mereka meluncurkan ide yang sesat untuk bisa menguasai dan menjebak kaum perempuan dalam putaran bisnis mereka.

Maka, kaum perempuan harus sadar, satu-satunya sistem yang akan mengayomi dan memuliakan mereka hanyalah sistem Islam. Dengan penerapan sistem Islam dalam institusi Khilafah, maka kaum perempuan akan ditempatkan sebagaimana kodratnya sebagai seorang perempuan. Yakni sebagai ummun warabatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) dan menjadi pencetak generasi gemilang penerus masa depan yang cerah.

Terlebih serangkaian hukum syariat telah disiapkan Allah SWT demi mengatur peran, posisi dan hak-hak kaum perempuan dalam kehidupan sesuai dengan kodratnya. Islam melalui institusi Khilafah akan melindungi kaum perempuan, termasuk memastikan kebutuhan finansialnya tanpa harus mengalami dilema antara kerja dan urusan rumah tangga.

Ketika pun kaum perempuan itu harus bekerja –di bidang yang membutuhkan tenaga perempuan- maka diperbolehkan, karena bekerja untuk kaum perempuan hukumnya mubah atau boleh. Kebolehan ini tentu dengan batasan yang tegas yakni tidak melalaikan kewajibannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, tidak mengumbar aurat, tidak bersolek secara berlebihan, dll. Mereka pun tidak akan diperbudak oleh perkerjaan seperti kondisi saat ini.

Hal ini menegaskan bahwa Islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Semuanya sama di hadapan Allah SWT, yang membedakan di antara keduanya hanyalah ketaqwaannya. Allah SWT berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS. Al-Hujurat:13)

Wallahu’alam bishawab

Anisa Rahmi Tania
(Aktivis Muslimah)

BACA JUGA!

Wahai Muslimah, Begini Cara Berwudhu yang Benar

Wudhu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah yang hendak menjalankan ibadah shalat.