Tolak Kampanye Anti-Muslim, Swiss Mudahkan Imigran Muslim Jadi Warga Negara

Zurich (PIKIRAN UMAT) – Rakyat Swiss melalui referendum memilih menolak takut pada Islam dan menentang kampanye anti-Muslim. Hasil referendum juga merekomendasikan pemerintah untuk memudahkan para imigran menjadi warga negara Swiss.

Referendum digelar pada Ahad (12/2/2017) kemarin. Kini, di seluruh negeri dipajang billboard-billboard bergambar seorang wanita yang mengenakan niqab—busana Muslimah yang menutup seluruh tubuh kecuali mata—dengan slogan berbunyi; ”Tidak ada naturalisasi dicoret”.

Sebanyak 59 persen suara rakyat Swiss memilih “Yes” untuk memudahkan naturalisasi di negara itu. Di bawah amandemen konstitusi, orang di bawah usia 25 yang lahir di Swiss sekarang akan lebih mudah untuk menjadi warga negara. Meski demikian, mereka masih harus melewati berbagai rintangan di bawah undang-undang yang ketat di negara itu.

Menurut studi migrasi nasional, sekitar 25.000 dari 8 juta penduduk negara Swiss berasal dari imigran Italia, Balkan dan Turki.

Menjelang referendum, banyak poster yang menggambarkan warga Muslim dipajang atas prakarsa Komite Anti-Fasilitasi Kewarganegaraan (CAFC). Komite itu berisi anggota parlemen dari Partai Rakyat Swiss (SVP) sebuah partai sayap kanan yang anti-imigran Muslim. Namun, pihak SVP membantah terlibat langsung dalam kampanye anti-Muslim itu.

Jean-Luc Addor, pemimpin CAFC yang juga anggota parlemen dari SVP telah berkomentar atas kekalahan kubu SVP dalam referendum.”Akan sendirian melawan semua orang dalam kampanye ini,” katanya yang tidak akan berhenti dengan kampanyenya meski sudah kalah dalam referendum.

”Masalah Islam, saya takut, itu akan menyusul kita dalam beberapa tahun,” ujarnya kepada kantor berita Swiss, RTS, yang dikutip Senin (13/2/2017).

Namun para politisi yang memenangkan referendum merayakannya. Mereka mencemooh kampanye Addor sebagai ”serangan kekerasan terhadap Muslim”.

Pada Desember lalu, saat kampanye anti-Muslim sedang ramai, seorang pria bersenjata menembak dan membunuh tiga orang di sebuah masjid di Zurich. Pelaku yang berusia 30 tahun ditemukan tewas sekitar 300 meter dari lokasi penembakan. Penyebab kematian pelaku belum jelas. [SR/Sindonews]

BACA JUGA!

Waspadai Genderuwo Ekonomi

Rembang (PIKIRAN UMAT) – Salah satu masalah yang menjadi pekerjaan rumah di Indonesia adalah masih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *