Utang Meroket, Negara Diambang Kebangkrutan?

Utang luar negeri (ULN) Indonesia kuartal I 2019 tercatat US$ 387,6 miliar atau sebesar Rp 5.542,6 triliun (kurs Rp 14.300). Angka ini tumbuh 7,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (detikFinance.com)

Wow. Angka fantastis untuk jumlah nominal sebuah hutang. Miris. Negara yang kaya akan sumber daya alam, namun banyak utang. Ini sungguh kondisi diluar nalar. Apalagi pertumbuhan angka utang yang mencapai 7,9%. Ini bukan naik, tapi melesat bak roket yang dilepas ke angkasa. Wus wus wus.

Hal ini menunjukkan pemerintah begitu agresif dalam menerbitkan surat utang. Apalagi utang tersebut beranak pinak. Berkembang biak. Berbunga. Riba. Dan jelas itu dosa besar. Tapi apalah arti riba dimata negara yang mencampakkan aturan Islam. Apalah arti dosa dimata negara yang mengadopsi aturan kapitalis sekuler sebagai pedomannya dalam menjalankan pemerintahan.

Sungguh, tidak ada artinya sama sekali. Karena negara sekuler hanya menggunakan Islam untuk mengatur ibadah ritual saja yaitu hubungannya dengan Allah saja yang hanya dianut oleh tiap individu muslim. Sedang untuk yang berhubungan dengan sesama manusia termasuk dalam hal aturan negara, Islam dicampakkan dan sekuler diterapkan.

Inilah hasilnya. Sekuler kapitalis yang menghasilkan liberalisme dalam bidang ekonomi. Sehingga aset-aset vital negara bebas dikuasai oleh asing. Padahal faktanya, tumpukan utang justru semakin menekan APBN dengan beban cicilan pokok dan bunga utang. Karena deretan utang yang digunakan untuk infrastruktur, terbukti belum menciptakan stimulus bagi perekonomian negara.

Terbukti dengan kondisi rakyat yang semakin tercekik karena harga bahan pokok yang terus naik. Biaya kesehatan dan pendidikan yang kian mahal. Lapangan pekerjaan yang kian sulit. Ditambah lagi pajak juga kian membelit. Namun pemerintah justru dengan mudahnya menarik utang riba sehingga menyebabkan keadaan kian terpuruk. Rakyat kian menjerit. Inilah akibat ketika dosa besar telah dilegalkan bahkan dicontohkan oleh para pemimpin negara. Maka azab, kesempitan hidup dan berbagai kerusakan yang akan didapat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara tidak sah (batil). Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 161)

Oleh karena itu, utang yang meroket. Menunjukkan negara diambang kebangkrutan. Tidak boleh dilanjutkan. Harus dihentikan. Dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh termasuk dalam bidang ekonomi. Karena Islam akan merubah kegelapan menjadi cahaya. Merubah kesempitan menjadi kelapangan. Merubah murka Allah menjadi berkah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

Nusaibah Al Khanza
(Pemerhati Masalah Sosial)

BACA JUGA!

FPI dalam Sorotan, Akankah Ada Keadilan?

20 Juni 2019 adalah tanggal habisnya masa SKT (Surat Keterangan Terdaftar) milik FPI (Front Pembela …