Uyghur Mengais Kepedulian Dunia Islam

Dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) telah dialami lebih dari satu juta masyarakat Muslim etnis Uyghur di China. Meski katanya diberikan status otonomi, penduduk Muslim di Xinjiang faktanya justru mengalami perlakuan represif. Lebih dari 10 juta Muslim di Xinjiang mengalami perlakukan diskriminatif, baik diskriminasi agama, sosial, maupun ekonomi.

Bahkan berdasarkan hasil investigasi UN Committee on the Elimination of Racial Discrimination dan Amnesty International and Human Rights Watch yang dikeluarkan pada Agustus lalu, sekitar dua juta warga Uighur ditahan otoritas China di penampungan politik di Xinjiang.

Banyak para tahanan yang dipenjara untuk waktu yang tak ditentukan dan tanpa dakwaan. Bahkan ironisnya, penahanan tersebut tidak sedikit yang berujung pada penyiksaan, kelaparan, dan kematian. (m.hidayatullah.com 15/12/2018)

Aksi brutal ini mengundang keprihatinan banyak pihak. Ribuan demonstran dari berbagai organisasi masyarakat berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Cina di Jakarta pada Jumat (21/12/2018), menuntut pemerintah Cina untuk menghentikan persekusi terhadap kelompok Muslim Uighur. Aksi ini diikuti dengan aksi serupa di masjid-masjid dan tempat terbuka lain di berbagai daerah.

Pemerintah Indonesia Diam

Dari pemberitaan media internasional, perlakuan diskriminatif dan tindakan represif pemerintah China terhadap Muslim Uighur sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Tapi sayangnya belum ada negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, yang berani mengecam tindakan pemerintah China.

Bahkan pemerintah Indonesia telah dengan tegas mengatakan bahwa itu adalah urusan dalam negeri China. “Tentu saja kami menolak atau (ingin) mencegah pelanggaran hak asasi manusia. Namun, kami tidak ingin campur tangan dalam urusan domestik negara lain,” Jusuf Kalla dikutip dari The Jakarta Post pada Senin (17/12/2018).

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, KH Irfan Yusuf (Gus Irfan), mengaku kecewa pemerintahan Joko Widodo bersikap diam atas isu kemanusiaan ini. Bahkan menurutnya, sikap ini tak lepas dari buntut besarnya utang dan investasi China di Indonesia.

BACA JUGA!

Erick Thohir Keliru, Kyai Ma’ruf Semakin Down

Makan malam Jokowi tanpa Cawapres Kyai Ma’ruf Amin (KMA) adalah blunder besar. Apalagi dikatakan kepada …