Anak-anak Yaman menatap bangunan-bangunan yang hancur akibat peperangan. [Foto: Aljazeera]

Yaman Menjerit, Penguasa Dunia Tutup Telinga

Derita kaum muslim seakan tak ada habisnya. Penderitaan silih berganti menghampiri negeri-negeri Muslim. Anak-anak, wanita, serta lansia Muslim menjadi korban nyata perang saudara yang digawangi oleh Barat.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zen Bin Smith turut berduka atas konflik yang tengah melanda kaum Muslim di Yaman.

“Semua ini diakibatkan oleh konflik berkepanjangan antara Pemerintah Yaman yang didukung oleh Saudi Arabia dengan kelompok Houthi. Konflik yang tidak selayaknya terjadi antara dua kelompok Muslim”. (Republika.co.id)

Bahkan banyak dari kaum Muslim di Yaman tewas akibat konflik ini. Kehilangan keluarga, sahabat, teman, juga tempat tinggal. Menurut data PBB, lebih dari 10.000 orang telah tewas dalam perang, sementara lebih dari 11 persen penduduk negara itu mengungsi. (Seraamedia.org, 23/11/2018).

Tak terelakkan memang bahwa Yaman adalah salah satu negeri yang juga tengah mengalami berbagai krisis akibat konflik perang persaudaraan tersebut. Krisis menipisnya air bersih, kelaparan, kekurangan gizi, kehilangan tempat tinggal tengah melanda saudara-saudara Muslim kita di Yaman.

Badan bantuan Save the Children pada Rabu (21/11) menunjukkan dampak mengerikan dari perang Yaman, di mana diperkirakan 85 ribu anak Yaman mungkin meninggal karena kelaparan sejak pengeboman dimulai pada tahun 2015. Selain serangan udara, koalisi Arab Saudi telah memberlakukan sanksi ekonomi dan blokade terhadap Yaman, yang berkontribusi pada krisis kemanusiaan yang semakin parah. Menurut PBB, 14 juta orang akan segera berada di ambang kelaparan. (matamatapolitik.com, 23/11/2018)

Melihat fakta tersebut sudah seharusnya pemerintah dunia ikut serta dalam menangani persoalan ini. Umat membutuhkan kekuatan global serta institusi pemersatu umat untuk menyudahi persoalan ini. Menghentikan penderitaan yang tak berkesudahan ini yang terus menerus dirasakan rakyat.

Alih-alih penguasa dunia memperdulikan saudara kita di Yaman, yang ada mereka hanyalah memikirkan nasib bangsanya sendiri. Acuh dan tak peduli pada negeri-negeri lain yang membutuhkan pertolongannya.

Inilah akibat tidak diterapkannya sistem Islam Kaffah. Dimana sistem kufur membuat kaum muslim terpecah-pecah serta tersekat-sekat atas nama Nasionalisme. Bukannya membantu persoalan yang terjadi saat ini di dunia, yang ada malah menutup mata dan telinga masing-masing. Karena mereka menganggap bahwa permasalahan tersebut bukanlah permasalahan yang mereka alami. Rasa kepedulian seakan telah musnah dari bumi saat mengingat acuhnya para penguasa dunia saat ini.

Maka dari itu, untuk menyudahi penderitaan rakyat kita perlu mengganti sistem kufur ini dengan sistem Islam. Satu-satunya sistem yang bisa memperbaiki kekacauan dunia. Sistem yang akan melindungi umat dari penderitaan-penderitaan yang menyengsarakan mereka.

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Azizah Nur Hidayah
(Pelajar, Member Akademi Menulis Kreatif)

BACA JUGA!

Bukan Sekadar Nostalgia, Reuni 212 Momentum Bangkitnya Kesadaran Politik

Mendengar kata reuni, apa yang terbesit dalam pikiran kita?. Terkait