Pikiranumat.com, WASHINGTON DC — Setelah berbulan-bulan menggunakan tekanan militer terhadap Iran, Amerika Serikat kini mengubah medan pertarungan. Washington mengancam akan mencekik ekonomi Iran dengan memutus sumber pendapatan dan jalur perdagangan negara itu.
Strategi baru tersebut disebut Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebagai “D-Day ekonomi”. Sasaran Washington bukan hanya perusahaan dan aset Iran, tetapi juga negara serta perusahaan asing yang tetap berbisnis dengan Teheran.
Bessent menyampaikan ancaman itu dalam konferensi pers di Washington, Senin (24/8/2026) waktu setempat. Menurut dia, AS akan memperluas sanksi terhadap sejumlah sektor yang dinilai menopang perekonomian Iran, antara lain aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.
“Tujuan kami adalah memutus setiap jalur ekonomi yang menopang rezim tirani ini hingga Teheran terisolasi,” kata Bessent.
Ia menegaskan, Washington akan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang membantu Iran mempertahankan aktivitas ekonominya.
Istilah “D-Day” merujuk pada operasi pendaratan besar-besaran pasukan Sekutu di Normandia, Perancis, pada 6 Juni 1944, yang menjadi salah satu titik balik penting dalam Perang Dunia II.
Dalam konteks Iran, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan upaya AS membuka front baru: bukan lagi hanya menyerang kemampuan militer, tetapi memutus aliran uang yang membuat perekonomian Iran tetap bertahan.
Presiden AS Donald Trump bahkan disebut telah menghubungi sejumlah pemimpin dunia untuk menghentikan hubungan ekonomi dengan Iran.
China Menjadi Titik Krusial
Masalah terbesar bagi Washington adalah Iran tidak berdagang sendirian.
China menjadi salah satu penopang utama perekonomian Iran, terutama melalui pembelian minyak. China disebut menyerap sekitar 90 persen minyak Iran yang diekspor.
Menurut data Komisi Keamanan dan Ekonomi AS-China yang dikutip dalam laporan tersebut, nilai impor minyak Iran oleh China pada 2025 mencapai sekitar 31,2 miliar dollar AS.
Angka itu jauh lebih besar dibandingkan nilai perdagangan bilateral China-Iran di luar minyak yang mencapai sekitar 9,96 miliar dollar AS pada tahun yang sama.
Karena itu, upaya Washington memutus aliran pendapatan Iran pada akhirnya sulit dipisahkan dari hubungan ekonomi Teheran-Beijing.
Bessent sebelumnya menyampaikan rencana “D-Day ekonomi” tersebut melalui kolom opini di Financial Times, Minggu (23/8/2026). Ia memperingatkan bahwa negara yang membantu Iran secara tidak langsung juga dapat menjadi sasaran tekanan AS.
Ancaman tersebut membuka persoalan baru. Jika Washington benar-benar menargetkan perusahaan-perusahaan China yang membeli minyak Iran, perang ekonomi terhadap Teheran berpotensi berubah menjadi pertarungan ekonomi dengan Beijing.
China Mulai Memberi Sinyal
China sejauh ini menolak tekanan dan sanksi sepihak AS terhadap Iran.
Dalam jumpa pers rutin di Beijing, Senin (24/8/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian meminta semua pihak bersikap rasional.
Menurut Lin, tekanan dan kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan.
Sikap tersebut sejalan dengan posisi Beijing yang selama ini menolak sanksi sepihak AS terhadap Iran dan mendorong penyelesaian melalui dialog.
Sementara itu, Iran memberikan peringatan yang jauh lebih keras.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan akan merespons negara-negara yang mendukung perluasan sanksi AS. Teheran bahkan memperingatkan bahwa dukungan terhadap kebijakan tersebut dapat dianggap sebagai “tindakan perang”.
Sabtu (22/8/2026), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaei juga memperingatkan negara-negara yang terlibat dalam sanksi AS.
Ia mengatakan, negara yang ikut menerapkan kebijakan tersebut akan dianggap sebagai musuh. Iran bahkan mengancam tidak akan membiarkan minyak keluar dari Teluk Persia jika negara-negara tetangganya ikut dalam rencana Washington.
Ancaman tersebut menunjukkan bahwa perang ekonomi berpotensi membuka persoalan baru di kawasan yang selama ini menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.
Bisakah AS Memutus Napas Iran?
Pertanyaan berikutnya adalah apakah strategi baru Washington benar-benar mampu membuat Iran menyerah.
Bret Erickson, pakar sanksi dan konsultan Obsidian Risk Advisor, menilai langkah Trump menarik China ke dalam persoalan Iran justru dapat menciptakan risiko baru bagi AS.
Menurut dia, China memiliki kepentingan ekonomi besar di Iran sekaligus instrumen untuk melakukan pembalasan terhadap Washington.
“Memutus hubungan ekonomi dengan China adalah kunci untuk menekan Iran. Namun, AS sepertinya tidak bertindak sejauh itu,” kata Jennifer Kavanagh, analis senior pertahanan Defense Priorities, kepada Al Jazeera.
Menurut Kavanagh, jika Trump benar-benar memperluas sanksi hingga kepentingan ekonomi China, Beijing mempunyai banyak pilihan untuk membalas.
Salah satunya adalah menggunakan kebijakan perdagangan dan tarif terhadap produk Amerika Serikat.
China juga telah beberapa kali menunjukkan bahwa mereka tidak selalu menerima tekanan ekonomi Washington begitu saja.
Karena itu, pilihan bagi Trump tidak sederhana. Semakin keras AS menekan jaringan perdagangan Iran, semakin besar pula kemungkinan kepentingan ekonomi China ikut tersentuh.
Beijing Tidak Ingin Mundur
Dekan Institut Keuangan Chongyang, Universitas Renmin, Beijing, Wang Wen, mengatakan China kemungkinan akan mengambil langkah balasan jika AS menjatuhkan sanksi yang berdampak langsung terhadap kepentingannya.
“China selalu berupaya menghindari konflik. Akan tetapi, ada batasnya,” kata Wang.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Pusat Kajian China dan Globalisasi Wang Zichen mengatakan China dan AS sebenarnya sama-sama memiliki kepentingan untuk mencegah persoalan Iran mengganggu hubungan kedua negara.
Terlebih, Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu Trump di Washington pada 24 September 2026.
Karena itu, kedua negara memiliki kepentingan untuk menjaga agar persoalan Iran tidak berkembang menjadi konflik ekonomi yang lebih luas.
Namun, Wang mengingatkan bahwa sikap menahan diri Beijing tidak berarti China akan menerima begitu saja tekanan AS.
“Kecuali tindakan AS betul-betul meluas dan menyasar kepentingan China, kedua pihak sebetulnya menghindari konflik demi kepentingan bersama yang lebih besar. Kalau China menahan diri jangan diartikan mengalah,” ujarnya.
Perang Ekonomi yang Bisa Berbalik Arah
Bagi Trump, strategi baru tersebut menawarkan cara lain untuk menekan Iran setelah tekanan militer belum menghasilkan perubahan yang diinginkan Washington.
Namun, persoalannya adalah ekonomi Iran kini terhubung dengan kepentingan negara lain, terutama China.
AS memang dapat memperluas daftar perusahaan dan sektor yang terkena sanksi. Washington juga memiliki kekuatan besar dalam sistem keuangan dan perdagangan internasional.
Tetapi menghentikan seluruh hubungan ekonomi Iran jauh lebih sulit.
China tetap memiliki kepentingan terhadap pasokan energi Iran. Teheran juga memiliki kepentingan untuk mempertahankan jalur perdagangan yang dapat mengurangi dampak sanksi Barat.
Karena itu, keberhasilan “D-Day ekonomi” Trump pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras sanksi AS dijatuhkan.
Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa jauh Washington berani menekan mitra dagang Iran tanpa memaksa China masuk langsung ke dalam perang ekonomi tersebut.
Jika China ikut menjadi sasaran, medan pertarungan dapat berubah. Yang semula merupakan upaya AS untuk mencekik ekonomi Iran bisa berkembang menjadi babak baru persaingan ekonomi Washington-Beijing.
Dan dalam skenario itu, Iran bukan lagi satu-satunya pihak yang menentukan arah perang.
(AP/AFP/Reuters)