BREAKING

Gelombang Panas Eropa Buka Ancaman Bom dan Ranjau Sisa Perang Dunia

Gelombang Panas Eropa Buka Ancaman Bom dan Ranjau Sisa Perang Dunia

Oleh: Shidiq | Aug 23, 2026

Pikiranumat.com, JAKARTA — Gelombang panas dan kebakaran hutan yang melanda Eropa memunculkan bahaya lama yang selama puluhan tahun tersembunyi: bom, ranjau, dan amunisi sisa Perang Dunia I dan II.

Panas ekstrem bahkan memicu ledakan sejumlah amunisi di Perancis, Belgia, Jerman, dan Belanda. Kondisi ini membuat upaya pemadaman kebakaran menjadi lebih berbahaya karena petugas dapat berhadapan dengan bahan peledak yang terkubur di dalam tanah.

Di Belanda, misalnya, tim penjinak bom dikerahkan untuk memeriksa kawasan hutan di Provinsi Limburg yang berada dekat bekas lokasi pertempuran pada 1944.

Pakar studi perdamaian dan konflik dari School of Oriental and African Studies, London, Sarah Njeri, mengatakan perubahan iklim mulai mengganggu kondisi yang selama puluhan tahun membuat amunisi tersebut relatif tidak aktif.

“Perubahan iklim kini berperan menggali dan mengaktifkan kembali apa yang sebelumnya stabil,” ujar Njeri, dikutip dari Associated Press, Sabtu (22/8/2026).

Panas mengaktifkan amunisi lama

Gelombang panas melanda Eropa sejak akhir Mei 2026. Suhu lebih dari 40 derajat Celsius tercatat di sejumlah wilayah Perancis, Spanyol, Portugal, Jerman, dan Ceko.

Kondisi tersebut diperburuk oleh kekeringan dan kelembaban rendah. Vegetasi yang tumbuh subur setelah hujan lebat pada awal tahun kemudian mengering dan menjadi bahan bakar kebakaran.

Menurut studi World Weather Attribution, kombinasi suhu tinggi, kekeringan, kelembaban rendah, dan angin kencang menciptakan kondisi yang sangat mendukung terjadinya kebakaran hutan.

Masalahnya, sebagian kebakaran meluas ke kawasan yang pernah menjadi medan perang.

Di High Fens, kawasan hutan dan rawa di perbatasan Belgia-Jerman, misalnya, masih terdapat bom, ranjau, dan booby trap yang ditinggalkan selama Perang Dunia II.

Sejarawan lokal Bernard Collard mengatakan amunisi sisa perang di kawasan tersebut bahkan telah menewaskan enam warga sipil sejak 1945.

“Saat Anda memasuki hutan seperti ini, Anda tidak bisa memastikan di mana letak bahan peledak itu,” ujarnya.

Sungai surut juga membuka bom

Ancaman serupa muncul bukan hanya akibat kebakaran.

Kekeringan ekstrem membuat permukaan sejumlah sungai di Eropa turun drastis dan membuka benda-benda peninggalan perang yang selama ini tertutup air.

Di Sungai Danube, Slowakia, surutnya air menampakkan dua ranjau laut. Polisi kemudian mengangkatnya dan melakukan pemusnahan secara terkendali.

Di Hongaria, sebuah bom peninggalan Perang Dunia II muncul di dasar Sungai Danube yang surut. Otoritas setempat bahkan menutup akses Jembatan Margaret di Budapest demi keamanan.

Peneliti University of Arizona, Christina Greene, mengatakan perubahan iklim berpotensi membuat warisan perang kembali menjadi ancaman.

“Apa yang sudah lama tidak pernah kita hadapi, kini kembali,” ujarnya.

Ancaman baru dari warisan lama

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya memperbesar risiko kebakaran dan kekeringan. Perubahan kondisi lingkungan juga dapat membuka kembali bahaya yang selama puluhan tahun tersembunyi.

Kebakaran dapat memanaskan dan memicu amunisi yang belum meledak. Sebaliknya, kebakaran juga menghilangkan vegetasi yang selama ini menutupi lokasi benda peledak.

Dengan demikian, kawasan bekas perang kini menghadapi risiko berlapis: kebakaran, ledakan amunisi, dan bahaya bagi petugas maupun masyarakat yang memasuki wilayah terdampak.

Seperti diringkas Associated Press, perubahan iklim membuat warisan perang yang selama ini “tertidur” kembali menjadi ancaman.