BREAKING

Mengapa Negara-Negara Berlomba Mengembangkan Rudal Hipersonik?

Mengapa Negara-Negara Berlomba Mengembangkan Rudal Hipersonik?

Oleh: Shidiq | Sep 24, 2026

JAKARTA — Kecepatan menjadi salah satu ukuran penting dalam persaingan teknologi militer. Karena itu, sejumlah negara berlomba mengembangkan senjata yang mampu bergerak dengan kecepatan sangat tinggi sekaligus sulit dideteksi dan dicegat.

Salah satu teknologi yang kini menjadi perhatian adalah rudal hipersonik.

Senjata ini mampu melaju sedikitnya lima kali kecepatan suara atau Mach 5. Pada kecepatan tersebut, rudal memiliki waktu tempuh yang sangat singkat menuju sasaran sehingga sistem pertahanan lawan menghadapi tantangan lebih besar untuk mendeteksi, melacak, dan mencegatnya.

Namun, keunggulan rudal hipersonik bukan hanya soal kecepatan.

Sulit Dideteksi dan Dicegat

Rudal hipersonik dapat menggabungkan karakteristik rudal balistik dan rudal jelajah. Selain bergerak sangat cepat, sejumlah sistem hipersonik memiliki kemampuan bermanuver selama penerbangan.

Kemampuan tersebut membuat lintasan rudal lebih sulit diprediksi.

Pada kecepatan hipersonik, gesekan dengan atmosfer menghasilkan panas ekstrem. Kondisi tersebut dapat membentuk lapisan plasma di sekitar rudal yang berpotensi menyerap gelombang radar.

Akibatnya, sistem pertahanan lawan dapat menghadapi kesulitan untuk memperoleh gambaran posisi rudal secara konsisten.

Karakteristik inilah yang membuat senjata hipersonik dirancang untuk menghadapi sistem pertahanan rudal modern.

Rudal tersebut juga dapat membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir, tergantung jenis dan konfigurasi senjatanya.

Rusia, China, dan Amerika Serikat

Rusia termasuk negara yang paling awal mengembangkan dan mengoperasikan berbagai sistem senjata hipersonik.

Salah satunya adalah Kh-47M2 Kinzhal, yang diperkenalkan Rusia pada 2017. Rudal yang diluncurkan dari pesawat tersebut diperkirakan dapat mencapai kecepatan hingga Mach 10 dengan jangkauan sekitar 1.500–2.000 kilometer.

Rusia juga mengembangkan Zircon, rudal jelajah hipersonik yang dapat diluncurkan dari kapal permukaan maupun kapal selam. Kecepatannya disebut dapat mencapai sekitar Mach 9 dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer.

Selain itu, Rusia memiliki sistem Avangard, sebuah hypersonic glide vehicle atau HGV yang ditempatkan pada rudal balistik antarbenua. Sistem ini dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir dan memiliki kemampuan terbang hipersonik sekaligus bermanuver.

China juga mengembangkan kemampuan hipersonik.

Salah satu sistem yang dikenal adalah DF-17, rudal balistik jarak menengah yang dirancang membawa wahana luncur hipersonik. Sistem tersebut diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 1.800–2.500 kilometer.

Pada 2021, China juga dilaporkan menguji wahana luncur hipersonik yang dibawa mengelilingi Bumi sebelum menuju sasaran. Kemampuan tersebut menunjukkan bagaimana teknologi hipersonik dapat dikombinasikan dengan lintasan penerbangan yang menyulitkan sistem pertahanan memprediksi arah serangan.

Amerika Serikat pun mengembangkan teknologi serupa, antara lain melalui program Dark Eagle. Senjata tersebut dikembangkan untuk memungkinkan serangan berkecepatan sangat tinggi dalam waktu relatif singkat.

Iran dan Korea Utara

Pengembangan teknologi hipersonik tidak hanya dilakukan oleh kekuatan militer besar.

Iran memperkenalkan rudal Fattah-1 dan Fattah-2. Iran mengklaim rudal tersebut memiliki kemampuan bermanuver dan dapat mengubah lintasan selama penerbangan untuk menghindari sistem pertahanan udara.

Korea Utara juga mengklaim telah berhasil mengembangkan dan menguji rudal hipersonik.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi hipersonik mulai menjadi bagian dari persaingan kemampuan rudal yang lebih luas.

Perbandingan Beberapa Sistem Hipersonik


Rusia Menggunakannya di Ukraina

Teknologi hipersonik Rusia tidak hanya berada pada tahap pengembangan dan pengujian. Sejumlah sistem telah digunakan dalam perang Rusia-Ukraina.

Pada Maret 2023, Rusia dilaporkan menggunakan rudal Kinzhal dalam serangan terhadap sejumlah sasaran di Ukraina.

Kremlin menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap serangan militer Ukraina di wilayah Bryansk.

Rusia mengklaim rudal-rudalnya menghantam puluhan unit artileri Ukraina yang sedang dipersiapkan untuk melakukan serangan. Moskwa juga menyatakan serangan tersebut menghancurkan stasiun radar buatan Amerika Serikat yang ditempatkan di Donetsk.

Pihak Ukraina mencatat adanya korban sipil dalam serangan tersebut.

Penggunaan Kinzhal di medan perang memberikan dimensi baru terhadap perdebatan mengenai senjata hipersonik. Senjata yang sebelumnya banyak dibicarakan sebagai teknologi masa depan kini telah digunakan dalam konflik berskala besar.

Oreshnik di Belarus

Rusia juga menarik perhatian setelah menempatkan rudal hipersonik Oreshnik di Belarus.

Penempatan tersebut dilakukan pada Desember 2025 dan mendapat perhatian karena Belarus berbatasan dengan Polandia, negara anggota NATO yang menjadi salah satu pendukung utama Ukraina.

Presiden Belarus Alexander Lukashenko mengatakan Oreshnik telah tiba di negaranya dalam kondisi siap tempur.

Namun, jumlah rudal yang ditempatkan tidak diungkapkan.

Penempatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi rudal hipersonik tidak hanya memiliki dimensi taktis, tetapi juga dapat menjadi instrumen strategis dalam membangun daya tangkal dan menyampaikan pesan militer kepada lawan.

Mengapa Korea Utara Mengembangkannya?

Korea Utara menjadi salah satu negara yang terus memperlihatkan kemajuan program rudalnya.

Pada Minggu, 20 September 2026, Korea Utara dilaporkan kembali melakukan peluncuran dua rudal jarak pendek. Korea Selatan menyebut rudal tersebut terbang sekitar 450 kilometer dan 600 kilometer sebelum jatuh ke laut.

Jepang menyatakan rudal tersebut jatuh di luar zona ekonomi eksklusifnya.

Peluncuran itu menjadi bagian dari rangkaian aktivitas pengembangan persenjataan Korea Utara.

Pyongyang selama ini mengembangkan rudal dengan berbagai jangkauan. Rudal jarak jauh diarahkan untuk menjangkau sasaran militer Amerika Serikat, sementara rudal jarak pendek dan menengah ditujukan untuk menghadapi ancaman dari Korea Selatan dan Jepang.

Bagi Korea Utara, kecepatan dan kemampuan bermanuver rudal hipersonik dapat menjadi cara untuk meningkatkan peluang menembus sistem pertahanan udara lawan.

Selain teknologi hipersonik, Pyongyang juga mengembangkan bahan bakar padat untuk sistem rudalnya.

Teknologi tersebut memiliki nilai strategis karena rudal berbahan bakar padat dapat dipersiapkan dan diluncurkan lebih cepat dibandingkan sejumlah sistem berbahan bakar cair. Mobilitas peluncur juga dapat ditingkatkan sehingga lebih sulit dideteksi sebelum peluncuran.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyatakan pengembangan senjata tersebut akan memperkuat kemampuan perang negaranya.

Babak Baru Perlombaan Senjata

Perkembangan rudal hipersonik menunjukkan bahwa persaingan teknologi militer telah bergerak ke arah yang semakin kompleks.

Kecepatan Mach 5 atau lebih memang menjadi ciri utama, tetapi kemampuan bermanuver, pola penerbangan, kemampuan menghindari radar, serta integrasi dengan sistem peluncuran menjadi bagian penting dari teknologi tersebut.

Bagi negara-negara pengembangnya, rudal hipersonik menawarkan kemampuan untuk memperpendek waktu serangan sekaligus meningkatkan tantangan bagi sistem pertahanan lawan.

Karena itu, perlombaan mengembangkan senjata hipersonik tidak semata-mata merupakan perlombaan mencapai kecepatan tertinggi.

Persaingan tersebut juga merupakan perlombaan untuk menemukan cara baru dalam menembus pertahanan, mempertahankan daya tangkal, dan mengubah keseimbangan kemampuan militer.