BREAKING

Lebih 200 Hari di Laut, Keluarga Prajurit AS Terlunta akibat Perang Iran

Lebih 200 Hari di Laut, Keluarga Prajurit AS Terlunta akibat Perang Iran

Oleh: Shidiq | Aug 27, 2026

Ribuan prajurit dan keluarga militer Amerika Serikat menghadapi penugasan panjang, pengungsian, biaya hidup yang membengkak, hingga ketidakpastian tempat tinggal setelah perang dengan Iran berlangsung berbulan-bulan.

Pikiranumat.com, WASHINGTON DC, 24 Agustus 2026 — Dampak perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran mulai terasa jauh dari medan tempur. Ribuan prajurit dan keluarga militer AS menghadapi penugasan berkepanjangan, pengungsian, persoalan logistik, serta ketidakpastian tempat tinggal setelah konflik berlangsung lebih dari enam bulan.

Kapal induk USS Abraham Lincoln, misalnya, telah berada di laut lebih dari 200 hari tanpa sandar di pelabuhan. Kapal tersebut menjadi bagian dari operasi militer AS di kawasan Timur Tengah setelah Presiden Donald Trump memerintahkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Persoalan tidak hanya dialami prajurit yang berada di kapal. Sekitar 1.300 keluarga anggota militer AS telah dievakuasi dari Bahrain setelah serangan balasan Iran menghantam pangkalan utama AS di negara tersebut. Hingga Agustus, banyak keluarga belum mendapat kepastian kapan dapat kembali.

Situasi itu membuat sebagian keluarga harus menanggung biaya tambahan untuk tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari. Sebagian bahkan tidur di lantai tempat pengungsian, sementara mobil dan perabotan rumah mereka tertinggal di Bahrain atau di kapal yang tidak dapat meninggalkan kawasan karena terbatasnya akses melalui Selat Hormuz.

Prajurit di Laut, Ayah Ditahan

Di tengah situasi tersebut, persoalan pribadi menambah beban seorang pelaut AS, Joshua Aviles, yang bertugas di USS Abraham Lincoln.

Dalam unggahan di Facebook, Aviles mengatakan ayahnya, Luis Manuel Aviles Roa, ditangkap Patroli Perbatasan dan Bea Cukai AS (CBP) di Key West, Florida, pada Minggu (23/8/2026). Roa kemudian ditempatkan dalam tahanan imigrasi.

”Saya bertugas sembilan bulan di lautan dalam operasi tempur di atas USS Abraham Lincoln untuk negara saya tercinta,” ujar Aviles.

Aviles mengatakan dirinya mendapat kabar penahanan ayahnya ketika sedang menjalankan tugas. Ia menyebut ayahnya memiliki SIM, kartu jaminan sosial, dan izin kerja serta keluarganya tengah menunggu proses kartu izin tinggal.

”Bagaimana saya harus melayani negara 12 jam sehari di saat harus memikirkan orangtua saya yang ditahan seperti penjahat,” kata Aviles.

Namun, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) mengonfirmasi penahanan tersebut dan mengatakan Roa tetap harus menjalani proses hukum imigrasi.

”Memiliki anggota keluarga yang berdinas militer bagi AS tidaklah membebaskan seseorang dari jerat hukum yang berlaku,” demikian pernyataan DHS.

Kasus Aviles memperlihatkan persoalan yang lebih luas: bagi sebagian prajurit AS, tekanan perang tidak berhenti ketika mereka meninggalkan rumah menuju kapal atau pangkalan. Keluarga yang ditinggalkan juga menghadapi konsekuensi dari operasi militer yang berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal.

Keluarga Terjebak Pengungsian

Media militer AS, Stars and Stripes, pada 21 Agustus 2026 melaporkan belum ada kepastian mengenai tempat tinggal sekitar 1.300 keluarga yang telah dievakuasi dari Bahrain. Mereka meninggalkan kawasan tersebut setelah serangan balasan Iran menghantam pusat logistik AS di Bahrain.

Sebagian keluarga harus mengeluarkan uang pribadi hingga puluhan ribu dollar AS untuk bertahan selama pengungsian. Mereka harus mengurus sekolah anak, layanan kesehatan, tempat tinggal, kendaraan, dan kebutuhan sehari-hari.

Seorang istri prajurit mengatakan keluarganya telah berpindah berkali-kali selama pengungsian. Mereka sempat ditempatkan di pangkalan AS di Jerman sebelum kembali ke Amerika Serikat. Di tempat baru, mereka tinggal di rumah sewa tanpa perabot dan kendaraan yang tertinggal di Bahrain.

”Saat hari-hari pertama mengungsi, kami mendapat informasi jelas apa yang dilakukan. Kini, setelah sekian lama, hampir tidak ada kejelasan bagi kami,” kata Renshaw.

Keluarga lain bahkan harus berpindah hotel hingga 10 kali dan menyewa kendaraan sebanyak tujuh kali. Sebagian pengeluaran ditutup dengan berutang.

Bantuan Pemerintah Terbatas

Pemerintah AS berupaya mengurangi beban tersebut dengan memperpanjang tunjangan untuk biaya hunian, transportasi, dan kebutuhan dasar prajurit beserta keluarganya.

Masalahnya, tunjangan tersebut hanya berlaku hingga 180 hari. Sementara itu, belum ada kepastian kapan perang berakhir atau kapan keluarga dapat kembali ke tempat tinggal semula.

Laksamana Muda Curt Renshaw, Komandan Satuan Laut Komando Tengah AS, mengatakan pemerintah dan militer tidak memperkirakan pengungsian berlangsung selama itu.

”Tidak ada yang menyangka pengungsian berlangsung sedemikian lama,” ujar Renshaw, Rabu pekan sebelumnya.

Sebelum serangan AS terhadap Iran, Bahrain menampung sekitar 8.300 anggota Angkatan Laut AS, keluarga, dan kontraktor sipil. Setelah pangkalan berulang kali menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran, hanya sebagian kecil personel yang tersisa untuk menjalankan operasi kritis.

Angkatan Laut AS kini mengupayakan pemulangan sebagian besar keluarga prajurit yang masih berada di kawasan Teluk ke Amerika Serikat. Mereka akan mendapat fasilitas perumahan dan kebutuhan dasar selama masa penempatan ulang.

Dampak Strategis

Persoalan keluarga berjalan beriringan dengan persoalan operasional militer. Penugasan panjang USS Abraham Lincoln menjadi salah satu contohnya.

Pemerintah AS bahkan tengah merancang penempatan Markas Besar Komando Laut Komando Tengah (Centcom) untuk jangka menengah dan panjang. The Washington Post melaporkan pejabat tinggi Pentagon mempertimbangkan perubahan penempatan militer AS di kawasan Teluk, termasuk menarik sebagian besar pasukan dari sejumlah pangkalan yang ada.

Centcom belum memberikan komentar mengenai rencana tersebut.

Dengan demikian, perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 tidak hanya menguji kemampuan militer AS mempertahankan operasi di Timur Tengah. Perang juga mulai menguji kemampuan pemerintah menjaga keberlangsungan hidup ribuan prajurit dan keluarga mereka yang terpaksa meninggalkan rumah.

Bagi prajurit seperti Joshua Aviles, persoalan itu menjadi sangat personal: ketika ia masih harus menjalankan tugas berjam-jam di tengah operasi militer, persoalan keluarganya di dalam negeri ikut menjadi beban yang harus dipikul dari tengah laut.