Pikiranumat.com, 21 Agustus 2026 - Warga Amerika Serikat telah mengirim peringatan kepada presidennya, Donald Trump. Penerimaan mereka pada cara Trump memimpin, menukik ke level terendah.
Peringatan masyarakat AS itu terungkap dari survei Reuters/Ipsos terhadap 1.166 warga dewasa secara daring selama empat hari yang diumumkan pada Senin (17/8/2026). Dalam survei itu, hanya 33 persen responden menerima kinerja Trump, 64 persen menolak. Angka penerimaan ini terendah selama kepresidenan Trump.
Ada ketidakpuasan yang nyata pada publik AS terhadap kinerja Trump. Sejumlah isu digali dari pendapat warga dalam survei itu untuk mengukur kepuasan mereka atas kinerja Trump menangani sejumlah masalah, seperti inflasi, kenaikan biaya hidup, perang Iran, perekonomian negara, kebijakan luar negeri, kriminalitas, dan imigrasi (Kompas, 19/8/2026).
Publik AS, seperti ditunjukkan 23 persen responden yang menerima, memperlihatkan kepercayaan terendah terhadap cara Trump menangani inflasi dan kenaikan biaya hidup. Mereka tak puas dengan kinerja Trump di bidang ekonomi.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/08/20/04e38f6a82fca33465e3c9f02b89a566-Trump_140496447.jpg)
Ketika memberikan kembali mandat kepada Trump di pemilu 2024, meski hanya kurang dari separuhnya yang memilih, masyarakat AS berharap ada perbaikan dalam ekonomi. Kala itu, mereka resah dengan tekanan ekonomi yang tak bisa diatasi pemerintahan Presiden Joe Biden (Demokrat). Kini, di bawah Trump, keadaannya setali tiga uang.
Ketika memberikan kembali mandat kepada Trump di pemilu 2024, meski hanya kurang dari separuhnya yang memilih, masyarakat AS berharap ada perbaikan dalam ekonomi. Kini, di bawah Trump, keadaannya setali tiga uang.
Malah, seperti diperlihatkan dalam survei lain, Focaldata/Financial Times, 53 persen responden merasa kehidupan memburuk di masa pemerintahan kedua Trump ini. Setidaknya 60 persen responden merasa ekonomi menuju arah yang salah. Hampir sama dengan survei Reuters/Ipsos, hanya 35 persen responden Focaldata menerima kinerja Trump.
Angka penerimaan (approval rating) dalam survei, meski secara metodologis berbeda, kerap dikaitkan dengan tingkat kepuasan (satisfaction level) publik. Angka itu bisa digunakan untuk membaca tingkat dukungan warga pada pemerintahan yang berkuasa, legitimasi politik pemerintahan, serta popularitas seorang pemimpin di mata masyarakatnya.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/08/20/e6ce8eb8e126206607a85f5eca1976cc-US_IMMIGRATION_ACTIVISTS_PROTEST_AGAINST_ICE_S_RECENT_ACTIVITY_I_140413346.jpg)
Dalam konteks politik di AS, menukiknya tingkat persetujuan warga AS atas kinerja pemerintahannya menjadi alarm peringatan bagi Trump. Alarm seperti ini seharusnya menjadi momentum untuk mengoreksi berbagai kebijakan pemerintah. Salah satu kebijakan yang jadi sorotan publik AS adalah perang AS—bersama Israel—melawan Iran, yang berdampak buruk pada kondisi ekonomi sehari-hari warga AS.
Terkait hal itu, para pendukung paling fanatik Trump pun mulai menentang kebijakan perang di Iran. Ini menandakan kesabaran warga AS atas kinerja Trump mulai menipis.
Dalam sistem politik AS dikenal pemilu paruh waktu, yang tahun ini jatuh pada 3 November. Pemilu ini akan memilih 435 anggota DPR, 35 dari 100 senator AS, 39 gubernur, dan pejabat negara bagian. Momentum itu semacam ”referendum” publik AS atas kinerja rezim pemerintahan yang sedang berkuasa.